Oleh: buntomi | Agustus 4, 2009

In Memoriam Pdt DR Armencius Munthe (12 Februari 1934 – 25 Juli 2009):“Upahmu Besar di Sorga”

Saya suAlm Pdt. DR. A Munthedah tak ingat persis tanggalnya. Namun bulannya adalah Mei 2004. Waktu itu, sahabat saya, Jannerson Girsang, yang kelak menjadi partner dalam menulis sejumlah buku biografi tokoh-tokoh di Sumut, mengajak saya bertemu dengan seseorang yang hendak ditulis perjalanan hidup dan kariernya. Namanya Pak Armencius Munthe. Rumahnya terletak di Kompleks Polda Sumut, Kelurahan Tanjung Sari. Pak Munthe menurut Jannerson Girsang, adalah mantan Ephorus GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), terlama. Beliau pernah menjabat sebagai Ephorus dan Sekjen GKPS selama kurang lebih 25 tahun, antara tahun 1970-1995. Sebelum akhirnya pensiun pada tahun 1999. Itulah informasi awal yang saya terima.

Mendengar jabatan Ephorus, ingatan saya langsung tertuju kepada Pdt SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP, yang orangnya tinggi besar dan wajahnya agak sedikit “angker”. Mungkin Pak Munthe orangnya juga tidak jauh berbeda dari gambaran tersebut, demikian batin saya waktu itu. Namun semua gambaran itu lenyap begitu saya berjumpa dan berjabat tangan langsung dengannya. Postur tubuhnya ternyata kecil, raut wajahnya juga tidak seram, malah terlihat sangat ceria dengan senyum yang seolah tak pernah lekang dari sudut bibirnya. Derai tawanya pun lepas sekonyong-konyong jika memang ada hal-hal lucu yang ia ceritakan, atau ia dengar dari lawan bicaranya.

Tak ada sekat yang membatasi secara psikologis perkenalan pertama tersebut. Saya bahkan merasa sungkan karena sering disapa “Pak Anto”. Soalnya usia saya terpaut seperempat abad lebih dengan Pak Munthe. Tapi saya paham. Barangkali itulah cara Pak Munthe menghormati kenalan barunya. Waktu itu bersama Jennerson Girsang, kami langsung diajak ke kamar kerjanya yang terletak di lantai 2 rumahnya, yang untuk ukuran seorang bekas Ephorus sebuah gereja besar, menurut saya tergolong sangat sederhana.

Ruang kerja itu berukuran sekitar 3 x 3 meter. Ada beberapa rak kayu yang penuh dengan buku-buku teologi berbahasa Jerman dan Inggris. Ada juga seperangkat komputer dan printer lama yang masih menggunakan tinta pita. Sebuah kursi panjang teronggok di ruangan itu. Tempat Armencius Munthe biasa membaringkan diri sehabis menulis khotbah atau naskah-naskah bukunya. Pak Munthe memang pendeta yang penulis. Ia produktif menulis bahan-bahan renungan dan pengajaran Kristen, yang sebagian besar terinspirasikan dari buku-buku karya Marthin Luther. Badan Penerbit Kriste (BPK), adalah penerbit yang kerap menerbitkan buku-bukunya. Diantaranya adalah “Kabar Baik dalam Perumpamaan Tuhan Yesus”, “Firman Hidup 45”, “Tema-tema Perjanjian Baru” dan masih banyak karya lainnya.

Banyak Memberi

Sewaktu terlibat wawancara untuk merekonstruksi jalan hidupnya, kepada Pak Munthe saya pernah menanyakan tentang filosofi hidupnya sebagai pelayan Tuhan. Dengan mantap beliau lalu mengutip salah seorang teolog mashur dari Jerman yang sangat dikaguminya: “Upahku adalah kalau aku masih boleh melayani”. Semula saya kurang mengerti dengan jawaban tersebut. Namun tanpa maksud menggurui, Pak Munthe kemudian menjelaskan bahwa apa yang diberikan kepada Tuhan, harus dibagikan juga untuk sesama manusia lain. Terutama yang lebih membutuhkan. Ia mengaku tak pernah merasa khawatir berkekurangan. Ia sangat yakin bahwa Tuhan akan mencukupkan hidupnya. “Karenanya saya tak pernah berlebihan dalam makan,”ujar Pak Munthe.

Dengan prinsip hidup seperti itu, tidak heran ketika pada waktu lain kunjugan saya ke rumahnya, tiba-tiba Pak Munthe masuk ke kamar dan membawakan sebotol madu untuk saya. “Saya baru dikirimi madu, ini ada satu untuk Pak Anto, baik untuk kesehatan,”ujarnya seraya mengangsurkan botol madu itu. Saya terus terang menjadi tersipu, bahkan malu karena setiap kali datang tidak membawa apa-apa. Kali lain, ke dalam saku baju saya tiba-tiba diselipkan beberapa lembar uang untuk ongkos tranpsortasi saya. ”Pak Anto kesini naik becak kan, maka butuh uang transport,”katanya. Sia-sia menolak pemberian tersebut karena ketulusan memang memancar dari wajahnya.

Suatu saat, Pak Munthe juga pernah datang ke kantor saya di Jalan Sei Serayu. Waktu itu kalau tidak salah berkaitan dengan naskah yang hendak diterbitkan menjadi buku. Saya diminta untuk mencari kawan yang bisa membuat cover dan lay-out isi bukunya. Saya langsung menyanggupinya. Usai ngobrol-ngobrol, Pak Munthe tiba-tiba memanggil office boy kami dan menyuruh membelikan beberapa nasi bungkus untuk seluruh staf KIPPAS. “Mari kita makan ramai-ramai karena saya baru mendapat berkat,”ujarnya.

Begitulah Pak Munthe……

Usai makan ketika saya menawarkan staf kami untuk mengantar ke rumahnya dengan dibonceng sepeda motor, Pak Munthe dengan ramah menolak. Bahkan ketika hendak diantar sampai ke Simpang Sei Serayu, beliau memilih untuk tetap berjalan kaki! “Tidak apa Pak Anto, saya sudah terbiasa berjalan kaki, sekalian olah raga,”jawabnya enteng.

Namun soal kebiasaannya memberi, ada sebuah kisah lucu yang pernah diceritakan beliau. Suatu hari, ia pernah kedatangan seorang mahasiswa yang hendak berkonsultasi dengannya. Mahasiswa itu berasal dari Papua dan berkuliah di Pematangsiantar. Dalam benak Pak Munthe, mahasiswa asal Papua biasanya hidupnya sederhana. Karena itu usai konsultasi, Pak Munthe langsung memberinya uang. Walau sang mahasiswa sudha bersikeras menolak, tapi Munthe terus mendesaknya sampai akhirnya diterima. Hari lain, Pak Munthe memperoleh informasi bahwa mahasiswa tersebut rupanya anak seorang pejabat! “Wah, malu aku Pak Anto mendengar informasi tersebut,”tuturnya seraya tertawa berderai.

Begitulah Pak Munthe, ia juga tak segan menceritakan “kesalahannya”.

Sederhana

Pertemuan saya terakhir dengan Pak Munthe terjadi pada acara peringatan ulang tahun Johanna Marbun yang ke-87 di Hotel Danau Toba. Kalau tidak salah, acaranya diadakan pada April 2008. Waktu itu Pak Munthe diminta untuk memberi khotbah dalam kebaktian pengucapan syukur Ibunda R.E. Nainggolan, yang kini Sekda Pemprov Sumut tersebut. Saya hadir karena menjadi editor bagi buku yang ditulis Jannerson Girsang tersebut. Pak Munthe berkotbah dengan sangat berapi-api. Sekitar 1.000 undangan yang mengikuti kebaktian berkali-kali dibuatnya tertawa.

Usai khotbah dan acara makan malam, saya mencari Pak Munthe untuk menyalaminya. Saya ternyata harus antri karena banyak orang yang bermaksud sama. Ketika akhirnya saya berhadapan muka dengan Pak Munthe, beliau tersenyum dan tertawa lepas. “Apa kabar Pak Anto?”ujarnya sembari menjabat dan menguncang tangan saya. Kepada Pak Munthe saya mengatakan bahwa walau saya tak mengerti kotbahnya, karena disampaikan dalam bahasa Batak dan Simalungun, namun saya yakin khotbahnya “hidup” karena berhasil mengundang tawa undangan berkali-kali. Pak Munthe hanya tersenyum-senyum mendengar komentar saya.

Ada suatu kejadian kecil yang saya saksikan, dan ini mungkin menggambarkan jati diri Pak Munthe. Ketika itu beberapa undangan memberikan informasi bahwa kartu undangan dapat ditukar ke pantia dengan sebuah hadiah. Mendengar itu, saya kemudian menuju ke meja panitia. Ternyata sudah banyak orang yang mengantri menukarkan undangan. Ketika tengah menunggu mendapatkan giliran, saya kembali bertemu Pak Munthe. Ia ternyata juga tengah mengantri untuk menukarkan undangannya! Melihat Pak Munthe mengantri, saya langsung keluar dari barisan dan menghampiri panitia.

“Ini Pak Munthe, Pendeta yang khotbah dalam kebaktian tadi, kalau bisa didahulukan,”ujar saya. Tapi Pak Munthe langsung menjawab, “Ini salah seorang penulis bukunya, kalian harus kasih juga,”katanya. Kami tersenyum simpul, dan akhirnya kami harus ikut mengantri untuk mendapatkan hadiah tersebut. Begitulah Pak Munthe! Terus terang, saya susah membayangkan apakah hal itu mau dilakukan oleh sesama mantan seorang Ephorus lainnya? Untuk sebuah hadiah, yang sesampai di rumah saya buka, dan ternyata isinya adalah sehelai handuk??

Karena itu, Senin pagi ketika handphone saya nyalakan, saya punya kebiasaan mematikan handphone sejak hari Sabtu sore sampai Senin pagi, sebuah SMS masuk. Pengirimnya Jannerson Girsang. Isi sms itu demikian: “Berita duka cita: 10 menit yang lalu Pdt A Munthe domma marujunggoluh I RS Herna Medan. Tonggohon hita keluarga tinadingni.” SMS itu dikirim hari Sabtu, tanggal 25 Juli 2007 pukul 22.58 WIB.

Usai membaca isi sms tersebut, saya langsung berkata dalam hati: “Selamat jalan Pak Munthe, upahmu yang besa

r di sorga menunggumu!” Amin. **

Dimuat di harian Analisa, Sabtu, 1 Agustus 2009


Tanggapan

  1. Hanya sedikit diantara kita yang bisa melakukan hal-hal besar, tapi kita semua bisa melakukan kasih yang besar. (Mother Theresia)

  2. Hanya sedikit orang yang menulis tentang kepergian Pdt A Munthe. J.Anto adalah salah satunya. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi para pembaca web ini.

    Terima kasih To!

    Regards

    Jannerson Girsang

  3. Tx penulis,ini dapat menambah pengenalan kami pada sosok pelayan yang rendah hati ini.

    Syalom

    Hardi H


Beri tanggapan

Your response:

Kategori