Dalam setiap peristiwa politik yang dibarengi aksi massa yang terjadi di tanah air, warga keturunan Cina selalu menjadi korban amuk massa. Tak peduli apakah peristiwa itu bersumber dari perilaku warga keturunan Cina yang mengundang kemarahan warga pribumi atau tidak. Mau contoh?
Tahun 1994 di Medan terjadi demonstrasi kaum buruh yang menuntut kenaikan UMR. Ketika tuntutan kaum buruh dihadapi secara represif oleh aparat keamanan, maka pabrik-pabrik milik keturunan Cina menjadi sasaran amuk kemarahan massa. Bahkan seorang warga keturunan tewas dianiaya massa setelah dipaksa untuk turun dari mobil yang ditumpanginya.
Bulan Mei lalu, ketika terjadi friksi di lingkaran elit politik, yang menjadi korban amuk massa, bahkan tindak perkosaan, juga warga keturunan Cina. Bahkan kutukan juga ditimpakan bagi warga keturunan Cina yang melakukan eksodus ke luar negeri. Mereka dihujat karena lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan negara. Padahal hengkangnya sebagian warga keturunan Cina disebabkan tidak adanya jaminan keselamatan dan kepastian hukum dari aparat keamanan. Penjarahan dan tindak kekerasan berlangsung di depan mata mereka, sementara aparat keamanan hanya menonton saja.
“Nasib warga keturunan Cina memang bagaikan pecahan belanga. Kalau pecah tidak bisa lagi diterima oleh tanah alias tidak diterima lagi di negeri leluhur mereka. Sedang kalau mau jadi belanga lagi juga tidak bisa karena memang bukan belanga. Buktinya waktu mau daftar sekolah sepulang ke tanah air, mereka ditolak Depdikbud,” demikian diungkapkan Drs Irianto, seorang aktifis pembauran Medan dalam acara Talk Show yang diselenggaraan SNB (Solidaritas Nusa Bangsa) Medan di Novotel Sochi, Sabtu (19/9) lalu.
Pembicara lain Dr Onghokham, pakar sejarah dari UI dan RM H Subanindyo Hadiluwih SH MBA, anggota SNB Medan.
Irianto, yang mantan aktifis BAKOM PKB TK I Sumut menduga-duga bahwa dalam setiap peristiwa kerusuhan, etnis Cina sebenarnya dijadikan sasaran antara oleh kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan politik.
“Kelompok ini sebenarnya dongkol terhadap kelompok lain, namun tidak berani melakukan konfrontasi langsung. Jadi etnis Tionghoa yang dijadikan korban karena mereka selama ini tak berani melawan,” ujarnya. Makanya di Medan beredar guyon, shio orang Cina kini tinggal 3 saja, tak lagi lengkap 12 buah, yaitu tinggal sebagai SAPI perahan, KAMBING hitam dan KELINCI percobaan.
Irianto yang pernah memimpin aksi demonstrasi mahasiswa ke gedung DPRD Sumut menuntut Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, mensinyalir bahwa memang ada kelompok tertentu yang tidak menginginkan warga etnis Cina bersatu dengan etnis lain. Lho kok?
“Kalau warga Cina sudah bersatu dengan warga pribumi, maka kelompok-kelompok tertentu tidak bisa lagi mengompas atau menjarah harta benda mereka,” tandasnya yang mengundang tepuk tangan peserta talk show yang sebagian besar merupakan generasi muda warga keturunan Cina Medan itu.
Kalau Irianto menengarai adanya konflik kepentingan di elit politik yang membutuhkan sasaran antara etnis Cina sebagai korban petualangan politik mereka, maka RM H Subanindyo Hadiluwih SH MBA lebih beranggapan adanya sentimen anti ras yang sangat kuat dari warga pribumi terhadap warga keturunan Cina. Subanindyo memberikan argumentasinya. Di Jawa, pembauran antara warga keturunan Cina dengan orang Jawa sudah berlangsung dengan baik. Bahkan banyak warga keturunan Cina yang “lebih njawani daripada orang Jawa”. Contohnya ahli keris ternama di Jawa justru seorang warga keturunan Cina, bukan orang Jawa. Toh orang Cina di Jawa juga kena jarah. Di Medan juga sudah banyak warga keturunan Cina yang kawin dengan etnis Batak atau Jawa. “Namun dalam kerusuhan kemarin, mereka juga tetap dijarah,” ujar penulis buku STUDI TENTANG MASALAH TIONGHOA DI INDOENSIA (STUDI KASUS: DI MEDAN) itu.
Subanindyo kurang setuju jika sentimen anti ras itu dikaitkan dengan masalah kesenjangan ekonomi. “Yang sudah kawin campur di Medan itu kebanyakan Cina yang miskin,” papar konsultan manajemen pada beberapa perusahaan di Medan itu. Sentimen anti ras itu sendiri sudah berumur panjang. Sudah terjadi sejak jaman penjajahan Belanda, yang membagi warga Hindia Belanda waktu itu menjadi tiga golongan. Golongan pertama diisi orang Belanda/Eropa, golongan kedua Asia Timur Raya dan golongan paling bawah adalah orang-orang pribumi.
Sejarawan Onghokham menambahkan bahwa waktu jaman penjajahan Belanda, untuk mengasingkan warga Cina dengan pribumi, maka dibuat perkampungan tersendiri bagi orang-orang Cina. Jika orang Cina hendak pergi dari kota ke kota lain, mereka juga wajib meminta surat jalan. Sistem diskriminasi semacam ini, diadopsi pemerintah RI setelah merdeka. Baik Orla maupun Orba. Contohnya soal surat bukti kewarganegaraan yang dipersyaratkan untuk warga keturunan Cina walau orangtuanya sudah menjadi warganegara RI. Soal KTP yang diberi kode berbeda untuk warga keturunan Cina, soal jatah untuk masuk PTN dan profesi-profesi lain yang mempersempit partisipasi warga keturunan Cina.
Tapi Ong lebih melihat akar diskriminasi terhadap warga keturunan Cina Indonesia karena dipraktekkannya politik kekerasan oleh rejim Orde Baru.
Yang paling mutakhir adalah Peristiwa 27 Juli dan Kerusuhan Bulan Mei 1998. “Kerusuhan digunakan oleh para elit politik jika mereka mengalami pergolakan,” tambah Ong. Dan korbannya, menurut Ong bukan hanya warga keturunan Cina saja, tapi juga etnis lain.
Ong juga memandang bahwa membincangkan persoalan hubungan antara warga pribumi dan nonpribumi sebenarnya merupakan hal yang tak berguna. Dalam era globalisasi, menurut Ong sangat tidak masuk akal jika masih ada upaya untuk menjegal peranan ekonomi warga keturunan Cina. “Masa kita mau memusuhi warga negara sendiri, sementara kita membiarkan modal asing masuk sebebas-bebasnya?” kata Ong.
Acara talk show yang baru pertama kali diadakan SNB Medan tersebut berlangsut hangat. Tak seperti diduga banyak pihak. Ternyata generasi muda keturunan Cina Medan nampak galak dalam menggugat nasib mereka. Seorang peserta menyayangkan kenapa unsur pemerintah tidak ada yang diundang.
“Sebenarnya mereka yang hendak kita ‘pukul’ agar tak lagi melakukandiskriminasi terhadap kita,” ujarnya.
Peserta lain mengungkapkan bahwa di kalangan warga keturunan Cina masih banyak yang memiliki ketakutan terhadap politik. “Ibu saya melarang saya untuk ikut-ikutan berorganisasi karena nanti nasibnya bisa seperti orang-orang Baperki. Lehernya digorok seperti waktu orang memotong leher babi,” ujar peserta tersebut. Namun demikian, setelah di tanah air belakangan kerap terjadi kerusuhan yang menelan korban etnis Cina, maka ia tergerak untuk aktif berorganisasi. Tujuannya untuk saling menumbuhkan rasa saling mengerti di antara sesama etnis.
Sementara peserta dari HMI, mengungkapkan kerinduannya akan lahirnya orang seperti Arief Budiman yang mau turun ke lapangan. Imbauan itu nampaknya cukup antusias disambut generasi muda warga keturunan Cina Medan.
“Kita memang mempunyai satu tujuan, yaitu sama-sama ingin memajukan bangsa dan negara Indonesia. Namun demikian itu semua tetap dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Jangan paksa kami untuk menanggalkan budaya kami dan memaksa kami menjadi seperti orang Batak atau Jawa. Karena bagaimanapun kami tetap bangga menjadi orang Cina, sekaligus kami juga bangga jadi bangsa Indonesia!” ujar peserta lain.
Memang benar pendapata tersebut. Kwik Kian Gie juga sudah kerap mengatakan bahwa untuk menjadi seorang nasionalis sejati yang dituntut adalah perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari yang membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Seseorang tak perlu ganti nama, melakukan operasi mata agar tak sipit atau ganti kulit biar berwarna sawo matang, mengganti agama, atau harus menabukan bahasa ibu, hanya agar dirinya disebut nasionalis.
Yang belakangan memang merupakan warisan usang Orde Baru, yang lebih mementingkan “kulit” daripada “isi”.***
Tulisan ini dimuat di: SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist, edisi 22/9/98








Mengapa diskrimasi yang dilakukan etnis cina kepada pribumi tidak pernah dibahas?
misalnya dalam pekerjaan, gaji seorang karyawan pribumi yang memiliki latar belakang pendidikan sama dan posisi yang sama dengan karyawan cina lebih kecil? anda boleh lihat misalnya di Pakuwon Group atau perusahaan cina lainnya
Oleh: henry on September 17, 2007
at 1:18 am
saya setuju memang itu juga realitas yang muncul di sejumlah perusahaan milik pengusaha tionghoa, terimakasih atas masukannya, suatu saat saya akan menulis soal ini
Oleh: buntomi on September 18, 2007
at 4:29 am
gak usah bingung lah wong didlm r.tangga aja bisa juga terjadi diskriminasi orang tua kok. emang susah sih karena keturunan cina sendiri menunjukkan sikap yang ekslusif ditengah WNI asli, celakanya mereka yang numpang kok seperti raja. Mau tau kenapa?tanya dh dengan individu yang punya kepentingan
Oleh: atiek fauzi on Februari 14, 2008
at 4:22 am
sebagai WNI keturunan ya sy juga prihatin sih, tetapi coba instrospeksi lagi, bukankah terkadangsi cina nya sendiri yang seringkali mengekslusifkan diri dlm pergaulan
Oleh: atiek fauzi on Februari 14, 2008
at 4:33 am
maaf saya gak setuju dengan tulisan di atas, wni keturunan slalu jadi korban tindakan diskrimnasi. yang sebenarnya wni keturnan china tersebut yang sering jadi propokator dan slalu main di blakang layar, sekarang aja mereka telah jadi raja diantara pribumi. dan slalu dapat prioritas utama dalam layanan publik di republik ini dan mereka yang menguasai 10 bahan pokok… siapa bilang merka di diskriminasi …? di tambah lagi gaya hidup mereka yang glamor, dan mereka yang slalu mencuri kekayaan negra ini baik koruptor maupun kejahatan lainya, gmana g skit hati pribumi melihatnya..! sebenarnya pribumi skrg ini telah di jajah oleh mereka dengan metode modern yaitu penjajahan dlam bentuk ekonomi…. apalagi kalau mereka sudah masuk dunia politik dan masuk pemerintahan alangkah malang nya pribumi ini yang di perjuangkan dengan darah dan nyawa para leluhur kita dan wni keturunan yang menikmati hasilnya, malangnya pribumi… dulu belanda dan jepang di saat zaman modern wni keturunan cina yang menjajah republik ini…….. apakah republik ini akan jadi singapura dan malaysia..? para elite politik tolong dong jaga perasaan kami prbumi ini apakah bapak mau orang indonesia ini jadi budak di negeri sendiri, jangan cuman mentingin jabatan dan harta melulu….
Oleh: alker on Februari 24, 2008
at 1:55 pm
Jgn ikut berdebat jk blm byk tahu soal intern negara tetangga..urus negara kita sendiri gak bs.Cb lihat dg jelas masalahnya dahulu.etnis tionghua lebih ulet (sbg karyawan di perusahaan) memang kenyataan,jgn lihat dr sisi negatif dulu,sifat itu sudah turun temurun,bahkan byk dikursus2 bahasa asing kebykan etnis tionghua(mengapa?krn mereka bkn hanya ingin eksis ditanah air tp jg diluar),pemikiran mereka itu luas,bkn untuk saat ini tapi untuk masa yg akan dtg,tanpa menyindir(maaf untuk yg beragama islam) hari jumat jam 9-2sore tidak berada dikantor(baik PNS ato swasta sama saja) bahkan ada yg sampai pulang baru absen sebentar..bukankah sudah disediakan tempat sholat di setiap perush atau kantor?,kadang2 juga diiklan mencari tenaga kerja yg menguasai bahasa mandarin&inggris,jgn langsung mengatakan bahwa mengistimewakan mereka,pikirlah bahwa kita jg bisa berbahasa mandarin dg mengambil kursus,di internasional apalagi didunia bisnis jaman sekrg bahasa itu sangat penting,bukan cm bahasa mandarin tapi jg semua bahasa krn semakin kita menjangkau bisnis diluar negeri itu tanpa batas,jd kita semua harus intropeksi diri,ya..tentu mereka juga.banyak masalah yg dihadapi negeri ini,jadi tolonglah kita semua jgn mempersulit lagi,kita urus masalah negara kita saja,tidak perlu ikut2an demo yg tidak penting apalagi urusan negara oranglain..bisa diliat di media massa,kayak org gak punya kerjaan aja n emang dikasi uang berapa tuh demo2 urusan negara tetangga lagi.Sekarang aja byk perusahaan yg ditutup krn pemikiran mereka bagaimana bisa bertahan dg buruh demo,keamanan tdk terjamin,pajak yg tinggi??mendingan pindah ke vietnam aja..disana lbh aman.bygkan kerugian yg diakibatkan demo.
ya..indonesia tidak perlu lama untuk hancur…tapi butuh waktu lama untuk bangun dan bertahan..doakan saja tidak cukup,tapi realistiskan usaha kita untuk membangun dan mempertahankan negara kita,siapa lagi kalo bkn rakyat indonesia(semua etnis kan?etnis jawa,sunda,batak,tionghua,madura,melayu,aceh,dll
Oleh: mizz on Maret 29, 2008
at 9:09 am
siapa bilang orang cina klo bergaul eksklusif suka pilih2 engga juga tuch
Oleh: Dani on Juni 8, 2008
at 1:45 pm
cina pemakan babi
Oleh: joko on Juni 8, 2008
at 1:47 pm
kami sebgai org china merasa kesal krn di jadikan kambing hitam!memangnya apa salah kami? karena kami lebih maju atau lebih kaya?kami bs lebih kaya dan maju krn kami ulet dan mau berusha dalam hal apapun!itulah point penting!tdk seperti kalian yg hanya bs berbicra tnpa mau usaha! kalian anggap kami koruptor?memangnya ada org china yg duduk di kancah politik?jd pkr dulu d0nk sblm berbicra!
HIDUP TIONGHOA!
Oleh: nokia on Juli 5, 2008
at 6:01 am
orang tionghoa seharusnya diperlakukan sama oleh pemerintah dan masyarakat karena mereka juga memegang teguh UUD dan pancasila, jangan karena muka sperti orang cina maka di hina dan di benci, orang yang menghina dan membenci adalah orang2 yang iri hati dan tidak rasional, apabila tidak ada orang keturunan cina di Indonesia tercinta, maka akan terjadi banyak pengangguran. dan lagi orang tionghoa adalah orang yang baik, hanya mereka ekslusif karena trauma terhadap kejadian2 yang dilakukan kaum pribumi seperti mei 1998, dan banyak lagi.
mari kita bersatu berlandaskan Pancasila dan UUD, kita semua sama di bawah naungan negara Kesatuan Republik Indonesia
Oleh: bobby on Juli 23, 2008
at 10:20 am
alah memang kelen cina babi
Oleh: cina babi on Juli 27, 2008
at 4:56 pm
sayangnya anda tidak memberikan alasan kenapa anda menyebut “alah memang kelen cina babi”.
apakah kemampuan anda hanya mengumpat dan mau menang sendiri?
coba anda perjelas! mungkin penyakit kejiwaan anda bisa berkurang dengan mengurangi beban tekanan jiwa anda.
kita akan berdoa semua anda lekas sembuh. Semoga
Oleh: acen susanto on Juli 30, 2008
at 5:47 am
dan juga khususnya untuk bung joko tentang “cina pemakan babi”.
apakah saudara kita dari PITI termasuk didalamnya?
menurut saya, anda harus meralat pernyataan anda menjadi begini “cina pemakan babi kecuali yang di PITI dan muslim cina lainnya di RRT ditambah lagi yang vegetarian”
saya bisa memaklumi kekurangan pengetahuan anda. cobalah untuk sekolah lagi kan masih banyak program paket mulai dari paket A, B dan C.
mudah-mudahan bisa membantu anda. selamat belajar
Oleh: acen susanto on Juli 30, 2008
at 6:18 am
Andayang identitasnya tak mau diungkap, trims atas komentarnya, tapi seperti motto dari blog yang saya cantumkan di sudut kiri atas, lewat ruang publik seperti ini saya mengharapkan bisa terbangun diskusi yang sehat, semata untuk kemajuan peradaban …. mudah-mudahan anda memahaminya, trims
Oleh: buntomi on Juli 31, 2008
at 4:11 am
hadoh.. indonesia merdeka 63tahun masih aja ada yg rasis sama tionghoa.. terbukti.. pikiran loe masih dijajah ama belanda..
Oleh: cloudonsky on Agustus 22, 2008
at 12:11 pm
Sebenarnya kalau kita perhatikan akar masalahnya adalah pendidikan, saat ini saya melihat kalo saudara kita yang pribumi berpendidikan tinggi banyak sekali kok yang pintar, kaya, bahkan jauh lebih kaya dari warga keturunan. Mereka pandai, jd pembicara penting di seminar-seminar, pengambil keputusan di sebagian besar perusahaan-perusahaan tionghoa. Saya juga sering waktu isi bensin kaum pribumi banyak yang memakai mobil mewah (mereka bukan sopir), sementara kaum keturunan paling banter kijang. Dan kaum pribumi tersebut yang saya kenal tidak pernah berpikir rasis karena ngapain sirik kalo mereka ternyata lebih atau sama dengan keberhasilan kaum keturunan.Jd untuk anda yang yang berpikir sempit seperti komentar kasar di atas, kalo mau maju coba anda tingkatkan pendidikan anda, tekan pemerintah agar menyediakan pendidikan yang murah dan berkualitas, kalo bisa gratis. Itu kunci supaya tidak ada lagi rasisme. Apalagi bawa-bawa agama untuk melegalkan komentarnegatif untuk kaum keturunan. Anda tahu yang menyebarkan agama Islam notabene orang tionghoa dan di China muslim termasuk agama no. 2. China juga selalu membela negara-negara arab. Dan kalo dirunut nenek moyang Indonesia berasal dari Yunan wilayah Cina. Jd intinya, sebenarnya tidak ada masalah rasis di Indonesia bila pendidikan di Indonesia tinggi seperti halnya di malaysia dan Brunei, mereka bahu membahu membangun negaranya. Dari pada ngata-ngatain kasar untuk rasisme, mendingan lu demo ke pemerintah supaya sediakan pendidikan gratis bagi semua rakyat. satu lagi soal perusahaan milik keturunan, yang saya tahu tidak ada tuh diskriminasi, (saya auditor jd sering lihat gaji keturunan sama pribumi) sama saja dan kalu berbeda ya karena jabatan dan prestasi. Sebaliknya yang saya temui tidak ada warga keturunan yang dipekerjakan di perusahaan milik pribumi. Mereka terkesan hanya terima kaum pribumi tok. Jarang deh yang mau terima warga keturunan. Itu fakta. Marilah kita bangun Indonesia tanpa memandang Ras, kita mulai dari diri masing-masing.Kalo tunggu orang lain yang memulai lalu kapan terwujudnya?
Oleh: kimhok on September 6, 2008
at 2:11 am
setahuku bung anto ini pengidap ISLAMPHOBIA akut. bung gak bisa sembunyikan ini. tetap kelihatan, meski bung tidak menyadarainya. gak tahu sekarang apakah anda sudah berubah belum..? kalau mau mengajak orang merdeka, bung juga harus memerdekakan pikiran-pikiran buruk bung tentang islam. maaf bila tidak berkenan…. ini hanya masukan, niatku baik kok…!!!
Oleh: anak medan on September 12, 2008
at 4:00 am
waduh, coba baca salah satu tulisan saya yang berjudul “Ramadhan Fair Melebur Batas Antara “kita” dan Mereka” yang dimuat Analisa 25 September 2007, di blog ini juga di muat di category pluralisme, mudah-mudah ini bisa menghapus salah paham bung!
Oleh: buntomijanto on September 12, 2008
at 7:02 am
Ehem2x Peace-peace. Apa kabar Buntomi? Begini, Saya kira sebaiknya keturunan tionghoa(Saudara kita) harus lebih membaur bahkan melebur menjadi satu dengan masyarakat sekitar. mulai dari cara pergaulan,sopan santun,gaya hidup,dan penampilan.
karena, selama ini sebagaian keturunan tionghoa hidup eksklusif tanpa mempedulikan masyarakat disekitar mereka yang di zaman krisis ini sedang mencoba hidup sederhana dan mengencangkan ikat pinggang. Saya sendiri warga keturunan tionghoa, sampai miris melihat perilaku warga tionghoa lain yang saya anggap(maaf) EGOIS Tingkat tinggi. Saya paling gemar berpenampilan sederhana layaknya warga sekitar. Bahkan saya jarang menggunakan mobil (kecuali untuk keluar kota), Kuliah di PTN,Main sepak bola dengan warga sekitar,ikut ronda,menundukkan badan ketika berjalan didepan orang yang lebih tua sambil tersenyum dan memberi salam. Dan saya anggap IMLEK dengan barongsainya itu tidak perlu dirayakan karena itu bukan merupakan budaya asli Indonesia.Kalo tinggal di jawa ya merayakan acara seperti kesenian tradisional setempat(nembang,ngadain pertunjukan wayang,reog,dll) lagian BARONGSAI itu tidak menarik bagi saya dan masyarakat sekitar. Kalo di tinggal di INDONESIA bertingkahlah dan bergaya hidup ala orang INDONESIA, APA SUSAHNYA SICH. Maaf apabila tulisan saya kurang sopan dan semoga ini dijadikan perenungan bagi saudara2 ku di tanah air
Oleh: De Ny Moeslem on September 15, 2008
at 9:18 am
Soal gak exclusive dan membaur demikian rupa tidaklah sesederhana yg dibicarakan oleh Bu. moeslem tsb.
Pertama: harus diliat juga bhw umumnya etnis cina merasakan feeling unsafe diantara orang2 pribumi; itu juga karena trauma2 mereka (mereka merasa sering di dekati utk di mintai duit dsb), dan juga prasangka yg masih tinggi di masyarakat terhadap mereka. Setiap manusia kan pasti ingin hidup dengan merasa aman dan tenang.
Kedua, setiap manusia memiliki ikatan emosional terhadap leluhurnya; itu bukan hanya exclusively milik orang cina, tp juga terdapat di suku2 lain(batak, menado, jawa, sunda, dsb).
Oleh: bondat on Juli 8, 2009
at 4:12 am
MAAF nambahin sedikit. Penggunaan bahasa Mandarin/Hokkian sebagai syarat /kriteria dalam bekerja akan memperlebar jurang pemisah antara tionghoa dan Pribumi. KALO MO BERMITRA BISNIS DENGAN RRC PAKAILAH BAHASA INGGRIS YANG SUDAH MENJADI BAHASA INTERNASIAONAL. INI LAGI!!!! APA SUSAHNYA SECH1 SAYA ORANG TIONGHOA AJA MO BELAJAR BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR AJA SUSAHNYA MINTA AMPUN APALAGI PAKE BAHASA HOKKIEN
Oleh: De Ny Moeslem on September 15, 2008
at 9:40 am
Kenapa anda memandang bersalah terhadap pengusaha yg berbicara bhs hokkien/tionghoa terhadap mitra bisnis yg dari RRC? Kalau kebetulan mereka bisa berhasa hokkien/tionghoa dan merasa lebih dekat dan nyambung dlm komunikasi, ketimbang menggunakan bhs inggris yg buat mereka akan terasa lebih kaku?
Bukankah itu justru menunjukkan bhw anda sendiri yg merasa geli/antipati dan tidak positive terhadap bhs Hokkien/Tionghoa??
Sudah sewajarnya mitra bisnis melakukan pendekatan melalui kesamaan yg mereka miliki – apalagi didalam komunikasi dan berbahasa; hal itu lumrah didalam bisnis.
Anda org Tionghoa yg mau belajar bahasa indo; begitupun saya => sangat fasih berbicara bhs indonesia, dan sy ga bisa bahasa tionghoa.
Itu krn saya lahir dan dibesarkan di indo, dan orang tua sy berbahasa indo juga.
Tapi saya bisa memahami jikalau wni etnis cina yg masih 1 generasi, atau yg lahir nya di RRC => mereka ga bisa bicara bahasa indo dengan baik.
It happen in every human….
Berbahasa Indo yg baik itu memang kudu (harus), tapi gada salahnya jika orang bisa berhasa lain sebagai second language.
Yg saya pertanyakan: apakah anda juga merasa “antipati” terhadap orang2 jawa yg masih medok berbahasa jawa, dan tidak berbahasa indonesia secara baik? sama spt anda merasa antipati terhadap etnis cina yg masih medok bahasa mandarinnya?
Oleh: bondat on Juli 8, 2009
at 4:25 am
soal gaya hidup sederhana, saya sangat setuju, ini memang bisa makin mempertebal sekat psikologis yang sudah ada, tapi saya yakin ini juga bukan semata problem sebagian warga Tionghoa, tapi juga warga lainn yang memang kurang bisa menunjukkan sikap empati di tengah situasi sosial yang penuh keprihatinan (kapan ya berakhir?), soal identitas budaya, menurutku kita berbeda pendapat, saya sendiri tidak merasa terganggu jika ada sebagian warga Tionghoa yang merayakan imlek sembari mempertunjukkan kesenian barongsai, saya juga oang China, tak bisa lagi pakai bahasa hokkian, apalagi mengerti adat istiadat atau budaya China, saya malah lebih akrab dengan budaya jawa….. biarlah tiap orang mengembangkan identitas budaya sesuai dengan apa yang mereka yakini sebagai sesuatu yang memperluhur nilai-nilai mereka dalam interaksi hidup keseharian mereka, horas!!
Oleh: j anto on September 18, 2008
at 1:21 am
Saudaraku De Ny Moeslem,
Kalaulah membaca pesan saudaraku diatas, kuat dugaan saya bahwa anda tidak mengerti pokok permasalahan dan hanya asal cuap-cuap saja.
Bisa saja karena anda baru pulang dari ngobrol santai di kedai kopi, dimana anda mendengar berbagai komentar dari komentator-komentator disana.
ya, maklumlah cerita apa saja ada dan semua cerita sudah dibumbui dengan solusi versi komentator tadi.
Yakinkah anda, bahasa yang anda pergunakan diatas sudah benar?
apakah yang saudaraku sampaikan diatas, memang menggambarkan semangat untuk berbaur.
Saya kira TIDAK, namun lebih kepada arogansi terhadap keberadaan anda.
Saudaraku, yang namanya pembauran itu layaknya seperti tepuk tangan.
butuh partisipasi dari dua pihak, dari didukung oleh semua orang di masing-masing pihak.
Kurang dari itu bukan pembauran namanya, tetapi berubah namanya menjadi “mimpi di siang bolong”.
Apa sih yang sudah anda lakukan untuk percepatan proses pembauran itu, khususnya dikalangan anda, lingkungan anda atau di keluarga anda?
Kalaulah upaya itu hanya dengan berkomentar seperti diatas, saya kira gak perlu lagi.
Dengan membaca pesan-pesan diatas, sudah kelihatan ada pesan dari yang lagi mabuk, ada pesan dari yang panik, bukankah lebih baik bagi kita semua belajar kembali.
dan mulai membeli cermin ( di Mall banyak lho ) agar dapat melihat diri sendiri ketimbang nuding melulu.
Oleh: Acen Susanto on September 19, 2008
at 9:25 am
Saya juga selama ini selalu memiliki pandangan positif terhadap etnis Cina. Namun, setelah menjadi dekat dengan sebuah komunitas, ada segelintir etnis Cina, dan lucunya mereka justeru memberi kesan bahwa ini adalah sikap umum para etnis Cina, bahwa mereka menganggap kaum pribumi sebagai bangsa yang rendah dan menjijikkan. Kalau terhadap pribumi yang sukses, mereka akan bersikap baik didepan pribumi, tetapi dibelakangnya mereka akan menjelek-kan pribumi itu. Terhadap pribumi yang miskin, mereka bener2 akan menganggap rendah langsung didepan mata.
Menyedihkan sekali, saya tidak sengaja mendengar bagaimana saya dijelek-jelekan oleh para etnis Cina, dengan berbagai sebutan “Tiko” atau “anjing atau babi pribumi”. Mudah-mudah2an tidak semua etnis Cina seperti ini. Mudah2an hanya segelintir yang seperti ini. Dan jangan sampai kita juga terjerumus ke stereotipe yang seperti ini. Namun saya juga sulit menghilangkan trauma terhadap sikap mereka, tapi kalau kita berpikir bijak, kita pasti bisa bertindak sewajarnya dan tidak mendendam.
Oleh: Red_attack on Oktober 28, 2008
at 3:09 am
kalau berbicara masalah trauma, sebenarnya trauma kami lebih dari yang anda bayangkan smuanya,,,
dengan tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suatu kalangan mayoritas, saya telah merasakan perbedaan itu ketika tahun 1998 yang nota bane nya saya masih kelas 5 sd..
Disitu saya ditahan disekolah saya dengan argumen bahwa orang tua saya belum menjemput, namun kenyataannya, sekolah saya hanya menginginkan saya bisa pulang dengan selamat sampai tujuan dengan akar masalah yang saya tidak ketahui pada suatu itu..
mungkin jika saya orang yang berfikiran sempit sampai skrg saya masih trauma dengan kejadian tersebut..
tapi dengan integritas sy skrg ini, saya dapat melihat smua secara keseluruhan, tidak hanya pada satu titik yang menjemukan saja..
banyak orang-orang pribumi yang baik terhadap saya,,
banyak pula orang-orang etnis tionghoa yang baik terhadap pribumi,,
kembali ke masalah asumsi,,
bagaimana kita dapat menghapus asumsi yang buruk saja..
PR buat kita smua dirumah..
thx
Oleh: yuan on November 5, 2008
at 1:45 am
menanggapi masalah diskriminasi..
saya rasa untuk orang yang mempunyai kemampuan baik dalam bidang yang digelutinya sendiri, tidak perlu takut dengan diskrimnasi..
berfikis logis coba,,
klo anda cerdas, masak ga bisa dapet kerja sih?
Oleh: yuan on November 5, 2008
at 1:49 am
1 lagi maaf jika komentar saya sedikit mengeja..
saya tdak setuju dengan komentar “cina pemakan babi”
maaf..
saya tidak tahu alasannya..
karena saya orang cina ttp bukan pemakan babi..
terima kasih
Oleh: yuan on November 5, 2008
at 1:52 am
Oh ya…
Ibu saya seorang sunda, ayah saya seorang tionghoa..
saya seorang tionghoa dan mempunyai pacar orang sunda…
apakah saya masih pria yang memusingkan bagaimana cara ber etnis yang benar? ^^
Oleh: yuan on November 5, 2008
at 2:02 am
Semua pada mabok yach?? di zaman seperti ini msh bicara Chinese n Pribumi. Capeekk deh… Bhineka Tunggal Ika!!! Saatnya mikirin nasib bangsa yg makin tak karuan. Yang iya kita semua saling membutuhkan. Disetiap suku dan bangsa. Emang apa salahnya cina makan babi?? Dan apa salahnya umat muslim sholat 5 waktu dlm sehari?? Semua itu hanya keyakinan. Hormatilah itu semua. Hargailah usaha Bung Karno yg mempersatukan semua suku dan 5 agama. Yang ada hanya Indonesia Raya. Mau hidup sukses yah kerja keras, bukannya iri. Emang uang dan keberuntungan jatuh dari langit. Iri berarti gak mampu.
Oleh: sky on November 15, 2008
at 7:45 pm
iya,,ga usah pake ngebedain ras deh
kita juga lahir ga bisa milih mau jadi orang ras apa..
yang penting pribadi kita masing-masing
kick racism!
Oleh: amirose on November 21, 2008
at 4:18 pm
Manusia sudah dikodratkan oleh Sang Pencipta menjadi suku dan bangsa-bangsa untuk dapat hidup berdampingan dimuka bumi secara damai. Perdamaian dunia yang abadi ini sudah termaktub pada pembukaan UUD’45, kita mempunyai landasan berbangsa dan bernegara dengan azas PANCASILA. Dengan didengungkan Pancasila pada 1 Juni 1945, maka negara-negara dimuka bumi menghendaki perdamaian yang abadi, sehingga tidak dimungkinkan lagi untuk Perang Dunia ke III. Masyarakat dunia mengakui azas hidup bangsa Indonesia yaitu PANCASILA, dan ini di akui ke hebatannya oleh dunia luar, hal ini dapat dibuktikan dengan terpilihnya OBAMA menjadi Presiden AS. Diskriminasi terkikis habis secara global (makro), secara micro diskriminasi mungkin tetap ada. Matematika mengajarkan pada kita HIMPUNAN, kalau didunia semua seragam, maka teori HIMPUNAN tidak mungkin akan menjadi pelajaran dari SD sampai perguruan tinggi. HIMPUNAN ini untuk dapat membedakan anatara 1 himpunan dengan himpunan yang lain. Sebagai contoh himpunan burung pipit berwarna hitam, jika di dalam himpunan ada burung pipit berwarna putih maka burung pipit yang berwarna putih tidak termasuk dalam himpunan burung pipit berwarna hitam.
Di dalam teori HIMPUNAN ada rumus GABUNGAN (UNION) dan IRISAN (INTERSEKSI). Jadi pasti secara teori himpunan adanya suku-suku yang ada di Indonesia bisa mengikuti rumus himpunan seperti di atas. Pembauran bisa terjadi di dalam IRISAN, di luar irisan terjadi pengelompokan suku-suku. Dan ini sudah menjadi kodrat kita semua. Maka sebetulnya tidak perlu untuk di pertentangkan.
Oleh: Yahya Ekoadiwardoyo on Desember 2, 2008
at 8:00 pm
“Cina pemakan babi”…..apa salahnya banyak dari kami yang memakan babi…menurut kami babi itu tidak haram dan rasanya enak.
Kalau misalnya menurut saya makan ayam adalah perbuatan yang najis apakah semua orang yang makan ayam saya anggap najis??? Tentu saja tidak.
Semua orang berhak mempunyai dan melakukan kepercayaannya masing2.
Memang banyak dari warga keturunan yang eksklusif, hanya mau membaur sesamanya, tapi pikirlah….kami dari dulu didiskriminasi dan tidak merasa aman.
Tapi sekarang banyak juga orang Tionghoa yang membaur dengan pribumi dankami saling menghormati.
Bagi anda yang benci dan iri pada kaum Tionghoa, saya sarankan anda untuk belajar lebih rajin dan kerja lebih rajin supaya peluang anda untuk menjadi orang sukses diperbesar. Iri hati tidak akan membawa anda kemana mana. Saya tak heran jika kondisi Indonesia makin memburuk karena terlalu banyak orang yang tak berpendidikan yang iri hati dan pemikirannya sempit. BUKALAH WAWASAN Anda utnuk membangun bangsa ini bukan memecah belahnya!!!
Oleh: asdf on Desember 12, 2008
at 7:55 am
mengenai turunan cina di indonesia yang eksklusif, hanya mau membaur sesamanya mungkin ada benarnya.. tapi saya juga banyak melihat “banyak” suku lainnya di indonesia ini yang hidupnya lebih esklusif banyak di jumpai di mana2 di nusantara ini… contohnya banyak anak-anak pejabat, toke getah,toke sawit, pemilik peternakan dan lain-lain yang berasal dari aneka suku diindonesia yang punya gaya hidup demikian
jadi apa masalahnya dengan hidup eksklusif..
menurut saya gaya hidup seperti ini kan cuma soal kemampuan masing-masing individu, jadi jangan hanya di sorot dari satu suku atau golongan saja.. indonesia ini bukan hanya milik suku batak,melayu,sunda,madura,jawa,tionghua… dll.
indonesia milik saya yang lahir ,hidup, dan berkreasi untuk kemajuan indonesia ke arah yang lebih baik dan terhormat
dengan porsi masing-masing
jadi…. tukang becak juga banyak memberikan sumbangsih kepada indonesia ke arah yang lebih baik karena dengan adanya tukang becak, kita-kita ini gak perlu lagi jalan kaki ke tempat jauh yang dapat menguras waktu dan tenaga, seperti yang di anjurkan pemerintah kita “Efisiensi”
Oleh: wedo on Desember 14, 2008
at 6:29 am
ah kurang gaul lu….
bisanya cuman nyalahin pribumi..
sendirinya aja kali yang nggak bener..
Berjuta-juta pribumi yang sakit hati ama keturunan Cina
Oleh: lopes on Februari 16, 2009
at 9:39 pm
Berjuta-juta orang itu bisa = berjuta-juta orang yg kerdil, jikalau hanya memandang kesalahan orang lain melulu dan suka menggeneralisasikan dan menyalahkan etnis.
Sakit hati terhadap suatu etnis itu => picik.
Karena perbuatan baik/jahat itu tidak bergantung pada etnis, tapi bergantung pada individu ybs.
Belum ada penelitian ilmiah yg membuktikan bhw suatu etnis tertentu memiliki gen jahat, atau gen baik.
Oleh: bondat on Juli 8, 2009
at 4:34 am
elite keturunan juga banyak yang bikin sengsara orang pribumi..
dasar lo tukang nipu ama nyabotase
Oleh: lopes on Februari 16, 2009
at 9:41 pm
Salam Nusantara’ sebenarnya saya tidak terlalu ingin berkomentar disini,tapi kelihatannya byk komentar yg keluar dr topik sehingga menciptakan ’sinisme dan perang urat saraf’ yg seharusnya ‘gak perlu, saya mengaharapkan saudara2 saya sebangsa setanah air,marilah kita saling mengisi,mendengar,memaafkan dan santun mengutarakan sesuatu.menurut saya sudah tidak tepat lagi kita membicarakan ‘diskriminasi’masa lampau’biarlah apa yg sudah’ sudalah tdk perlu diungkit-ungkit lagi,marilah kita saling merangkul,saling menghargai satu sama lain karena setiap manusia berbeda-beda untuk saling mengisi untuk satu tujuan “kedamaian’khususnya ditanah air yg sama2 kita cintai ini.
Oleh: dewa on Februari 24, 2009
at 5:03 pm
” dunia adalah lawak bagi yg melakukannya, dan tragedi bagi yang merasakannya ”
kadacitkala@yahoo.com
Oleh: abdi_dalem_NH on Maret 18, 2009
at 8:44 pm
Ethnis Ting Hoa :
- Suka membantu kalau :
1. Sudah jadi miliyoner
2. Sudah Terdesak / terancam
3. Sudah ada maunya
99% ethnis tiong hoa memanfaatkan kelemahan karyawannya karena butuh upah dengan cara mempekerjakan mereka dengan waktu dan gaji yang sangat tidak sesuai ( PENINDASAN !!! )
inilah di jadikan mereka alasan SUKSES dan GIAT dalam berbisnis. malahan ada yang bilang “wa gak takut ama siapa pun kalau ayam masih mau di kasih makan jagung lho…” ?????????????????…………………………………….
Ethnis Pribumi :
- Berbuat Jelek kalau :
1. Sudah terdesak tidak punya uang
2. Sudah memiliki rasa dendam
Umumnya banyak juga orang pribumi yang memanfaatkan kebaikan orang tiong hoa yang tulus ingin membantu, tetapi ya dasar sifat manusia sekali di bantu seterusnya ingin di bantu.
malah ada yang menipu pulak lagi tuh ( GILA )
Semua akan bagus jika CHINA MEDAN tidak terlalu banyak menunjukan kehebatan atau kekuasaannya pada orang yang tidak punya apa-apa.
Mari budayakan TULUS dalam membantu semua tanpa terkecuali etnis apa pun ( seperti orang china di singapura )
Oleh: fahry on April 6, 2009
at 4:31 am
Yah.. dua2 etnis tersebut sama2 dudut. Hal-hal tersebut seperti disenangi masyarakat (entah etnis cina maupun tidak) untuk “diwariskan” ke generasi berikutnya. contoh kecil saja, siapa yang tidak tahu
julukan2 buruk untuk setiap etnis?
yah semua dibutuhkan kesadaran. toh sekarang kita warga indonesia. siapa pikir kalian adalah etnis cina ato engga? (harusnya sih seperti itu)
mungkin bisa disimpulkan kalau indonesia cuma satu budaya nya yakni budaya dendam.
ya toh?
Oleh: leo on Mei 4, 2009
at 7:13 pm
Mengapa diskrimasi yang dilakukan etnis cina kepada pribumi tidak pernah dibahas?
KARENA
orang Pribumi lebih dahulu melakukan diskriminasi, terhadap orang Tionghoa,dampaknya mereka menjadi eksklusif.
TAPI kita oarang indonesia yang netral bisa liat kok, orang Tionghoa di benci di suati wilayah karana EMANG TIPIKAL orang2 di wilayah itu BRINGASAN / FANATIS / EKTREMES / AROGAN
misalnya di MEdan & Pontianak(Melayu & Tionghoa) tipikal orang MElayu itu lembut2 tapi FANATIS , PEDENDAM, & INTROFET, jadi kalau sudah dendam disimpen2 trus bunuh orang dah apalagi menyangkut AGAMA, biasanya orang melayu menggunakan kekuasaan Pemerintah buat diskriminasi. di BUKITTINGGI juga sama (MInang & Tionghoa) bedanga di Kukittinggi Tionghoa nya sedikit.
di Makasar (Bugis & Tionghoa)tipikal orang BUgis Ektrofet, apa adanya, EXTREMES, FANATIS, langsung hantam / bakar / timpuk / Bogem aja langsung
BEDA kalau di JAWA & SULUT
di Jawa malah akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa terjadi terutama di pesisir utara, Duwh Indahnya, 9 wali sanga keturunan Tionghoa,
di Manado, asimilasi besar besaran terjadi antara minahasa & Tionghoa
di Kalbar, tionghoa & Dayak Harmonis
Oleh: Rusli on Juli 8, 2009
at 6:57 pm
yang jelas nggak cina ,nggak arab , semua golongan yang munafik , egois , sok pinter dan maunya selalu di atas !!! coba aja lihat gedung gedung pinggir jalan pasti nggak bisa di akses sama pribumi . jalan satu satunya bikin produksi nuklir aja !. baru di habisin semua …
Oleh: rabechus on Juli 26, 2009
at 1:10 pm
ckckckck memang yah susah untuk diajak berdiskusi! kalo kalian merasa orang cina lbh pntar atau kaya, knp tidak belajar dan berusaha lebih ulet!
jgn hanya melihat orang china mendapat posisi bagus dalam perusahaan atau kaya raya langsung mencap mereka koruptor atau gila harta
tapi itu merupakan usaha keras selama bertahun-tahun! jangan hanya bisa mengatakan kalo “cina tkng pamer harta”
mengenai masalah pembauran, bagaimana kami bisa berbaur kalau di jalan saja sudah diteriaki “woi cina babi”, “cina loleng makan babi sekaleng gk hbs w tempeleng pke kungfu jackie chan”! bahkan di dinding atau fasilitas umum bnyk sekali coretan yang sangat rasis terhadap orang tionghoa
di medan dulu bahkan ada sekelompok orang yang kerjanya tiap malam mencari org china untuk dipukul atau diperas!
Oleh: nokia on Juli 27, 2009
at 1:19 pm
Cina Medan fantastis! Anda berhadapan dengan misteri konflik dalam kepribadian “Anak Medan”. Ini Medan, Bung!
Oleh: Syaiful Hidayat on November 24, 2009
at 1:28 pm