Oleh: buntomi | Juni 26, 2007

Kisah Seorang Tentara “Soekarnois”

Gara-gara menyatakan setia terhadap pemerintahan Soekarno, Ngatimin Hadipranoto (66) harus merelakan dirinya dipenjara selama 12 tahun oleh rezim Orde Baru. Mantan anggota pasukan TNI dari Yon Argab (Batalyon Artileri Gabungan) yang berkedudukan di Binjai tersebut kaya dengan pengalaman tempur. Ia pernah ikut menumpas pemberontakkan DI/TII  Daud Beureauh, juga memerangi pasukan PRRI Permesta yang dipimpin Kolonel Simbolon. Bintang tanda jasa Satya Lencana Teladan dan Kasa Perkasa juga pernah diterimanya. Namun semuanya itu seolah menguap begitu saja paska Peristiwa G 30 S 1965. Ngatimin terseret oleh pusaran sejarah yang tak bisa dipahaminya. Ada lima hal yang dituduhkan kepada dirinya, yakni mencuri 12 pucuk meriam, mencuri 21 peti senapan cung, menyimpan alat pencungkil mata, mencuri 21 peti granat, dan sebagai prajurit terlalu setia kepada Soekarno! Tragis! Karier militer Ngatimin memang berakhir dengan menggenjot pedal becak!            

Sejak duduk dibangku SMP, Ngatimin Hadipranoto (64) memang sudah tertarik untuk menjadi tentara. Bukan tanpa sebab cita-cita itu menggayut dalam benak Ngatimin. Setiap pagi saat menyusuri jalanan yang mengantar ke sekolahnya, Ngatimin kerap melintasi markas KMKB (Komando Militer Kota Besar). Ngatimin muda menyaksikan mobil panser dan tank hilir mudik di jalan raya. Ia juga melihat mayat-mayat bergelimpangan mati bersimbah darah. Bukannya ngeri atau kecut, tapi Ngatimin justru terpicu untuk ikut berperang membela negara. Ngatimin muda melihat bahwa negara kesatuan RI dalam keadaan rusuh karena pemberontakan PRRI Permesta yang dipimpin Kolonel Simbolon.           

Akibatnya setamat SMP pada tahun 1959, Ngatimin langsung mendaftar menjadi ke KMBK. Ia lolos seleksi dan kemudian dikirim ke SKI (Sekolah Kader Infanteri) di Pematang Siantar, sekitar 100 KM arah timur kota Medan . SKI adalah sekolah untuk para calon prajurit. Kurang lebih 4-5 bulan digodog di SKI, Ngatimin berhasil menamatkan pendidikannya. Ia kemudian diterima di Artileri Lapangan Dua, di Deli Tua. Ngatimin bertugas untuk memperdalam hal ihwal yang berhubungan dengan meriam. Gampangnya, ia bergabung pada pasukan meriam. 

Lolos Dari Tentara Daud Beureuh           

Awal tahun 1960-an, bersama Yon Arteleri Gabungan, Ngatimin diberangkatkan ke Aceh untuk menumpas pemberontakkan DI/TII pimpinan Daud Beureuh. Ada pengalaman mengesankan ketika Ngatimin bertugas di Aceh. Usai menjalankan shalat Jumat di sebuah mesjid di daerah Seranjaya Hilir, Ngatimin tiba-tiba terkejut ketika jemaah yang berada disamping kiri dan kanannya mengeluarkan pistol. Mereka rupanya anggota pasukan Daud Beureuh! Ngatimin sempat panik juga menyadari situasi yang genting tersebut. Namun kemudian ia mencoba tetap tenang. Ia mencari akal bagaimana supaya bisa keluar dari krisis tersebut.

Ketika diinterogasi kenapa ia shalat Jumat di mesjid itu, Ngatimin menjawab karena ia seorang muslim. “Jadi sudah tahu kalau di sini daerahnya rusuh?”tanya orang yang menginterogasi tersebut sebagaimana diungkapkan kembali oleh Ngatimin. “Ya, memang mengerti, tapi kalau sudah dalam mesjid kita Islam kan saudara,”jawab Ngatimin. Ketika mereka menanyakan apakah tentara Indonesia yang lain juga banyak yang sembahyang, Ngatimin menjawab banyak.  “Yang sembahyang banyak, cuma kita diganti-ganti, ada yang jaga. Jadi kebetulan waktu saya senggang, saya yang sembahyang. Jadi kalau sembahyang semua macam mana itu”,ujar Ngatimin.

Akhirnya antara anggota pasukan Daud Beureuh dan Ngatimin tercapai kesepahaman. Bahwa ketika di mesjid mereka adalah sesama kaum muslimin, mereka kawan. Namun dalam medan pertempuran, mereka adalah musuh. Usai itu, Ngatimin akhirnya diperbolehkan kembali ke kesatuannya. Ngatimin pun merasa lega..Sudah tentu, masih banyak cerita suka duka Ngatimin selama  bertugas kurang lebih 8 bulan di Aceh. Namun yang jelas, waktu itu tentara Indonesia memiliki prinsip: “lebih bagus mandi keringat daripada mandi darah”.  Jadi walaupun jarak menuju lokasi musuh kira-kira hanya 100 meter, tapi jarak tersebut terkadang bisa ditempuh sampai  4 – 5 jam. “Nggak mau kita jalan dekat tapi berbahaya. Kita harus putar”,ujarnya. Berbeda dengan tentara sekarang yang menganut prinsip “lebih baik mandi darah daripada mandi keringat”.  Akibatnya korban yang jatuh lebih banyak. 

Ikut Menumpas PRRI Simbolon

Usai bertugas di Aceh, Ngatimin kemudian dikirim sebagai anggota pasukan yang bertugas menumpas pemberontakan PRRI di daerah Simalungun. Menurut Ngatimin, melawan pasukan PRRI Simbolon lebih berat dibanding bertempur melawan pasukan DI/TII Daud Beureuh. Dalam sehari bisa 9-10 kali terjadi kontak senjata. Di sisi lain persenjataan pihak PRRI juga tergolong lebih modern.  Mereka sudah menggunakan bazoka lengkap dengan martirnya. Sementara pasukan dimana Ngatimin bergabung masih menggunakan senapan mesin yang memakai rantai. Anggota PRRI juga umumnya tentara, bukan dari kalangan sipil. Akibatnya mereka mendapatkan perlawanan yang sengit dari pasukan PRRI Permesta. Pernah misalnya di daerah Tangga Batu, pasukan Ngatimin terlibat pertempuran mulai dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi. Sebanyak 14 temannya gugur dalam pertempuran tersebut. Akibatnya Ngatimin dan teman-temannya hanya bisa berada dalam posisi bertahan. Beruntung mereka kemudian mendapat bantuan dari pasukan yang ada di Pematang Siantar. Mereka mengambil alih pertempuan, dan pasukan Ngatimin disuruh mundur ke daerah Tiga Dolok untuk beristirahat. Namun bukannya istirahat, di daerah tersebut mereka juga bertempur kembali dengan anggota pasukan PRRI.

Tapi itulah resiko menjadi tentara menurut Ngatimin. Bisa sehari semalam perut mereka tidak terisi apa-apa. Ketika mundur ke daerah lain pun, mereka hanya sempat mengisi perut dengan memakan daun ubi mentah yang dijumpai di hutan-hutan. “Yang mendorong semangat itu (karena)  kita betul jernih membela negara dan memang kita masuk nggak pakai suap-suap waktu itu. Nggak pakai suap, nggak pakai apa segala ….”,ujar Ngatimin. 

Suka dan duka memang tipis batasnya. Di tengah rasa sedih meratapi kematian rekan-rekannya, Ngatimin terkadang merasa geli mendengar pengalaman rekan-rekannya yang cedera tapi selamat dalam pertempuran. Misalnya ada yang tertembak di bagian telinga. Ketika ditanyakan bagaimana kejadiannya, kawan tersebut menuturkan karena ia membuka mulutnya atau berbicara.  Padahal dalam mulutnya, ada jimat yang tengah digigit dan dipersyaratkan tidak boleh sampai jatuh ke tanah!. Karena waktu itu kawan Ngatimin berbicara, maka jimat itupun meluncur ke tanah, dan ia tertembak telinganya. Ngatimin tertawa mendengar penuturan tersebut, namun ia juga harus menunjukkan rasa solidaritasnya. 

Sebagai Petugas Juru Bayar

Usai menjalankan tugas tempurnya di Simalungun, tahun 1961 Ngatimin kemudian ditarik ke markas induknya yang telah berganti nama menjadi Armed (Artileri Medan) VII yang bermarkas di Jalan Binjai KM 19. Kira-kira dua tahun kemudian (1962) Ngatimin ditugaskan sebagai juru bayar atau kasir. Karenanya, Ngatimin berkantor di Jalan Mahkamah, dimana urusan keuangan dan arteleri dipusatkan di sana.Yang menjadi komandan Ngatimin waktu itu adalah Letkol RH Soekardjiman, yang berasal dari Solo, Jawa Tengah.

Sebagai catatan, waktu itu Ngatimin sudah berpangkat sebagai prajurit kader.Sebagai juru bayar, Ngatimin mengaku lebih sering tekor. Misalnya ada tentara yang gajinya Rp 480, ketika diberi uang Rp 500, sisa yang Rp 20 tidak dikembalikan. Ini bisa terjadi karena sistem penggajian tentara waktu itu menurut Ngatimin sangat informal. Setelah uang ditarik Ngatimin dari bank, seringkali Ngatimin jumpa teman-temannya dijalan yang langsung meminta gajinya. Karena rasa persaudaraan masih erat, maka Ngatimin mengasihkan begitu saja, esok harinya baru tanda tangan. Nah, ketika diminta sisa pengembalian gajinya, ternyata tak ada. Akibatnya kas jadi tekor, dan Ngatimin sering menutupi ketekoran tersebut dari gajinya sendiri. 

Menerima Tanda Penghargaan

Sebagai tentara, Ngatimin pernah mengantongi dua tanda jasa. Pertama, ia pernah memperoleh penghargaan Kaca Perksa. Penghargaan itu diberikan kepada tentara yang dalam medan pertempuran dinila gesit dan bisa menyelamatkan kawan-kawannya. Sedangkan penghargaan Satya Lencana Teladan diberikan kepada Ngatimin karena sebagai seorang prajurit ia telah dinilai berkelakuan baik, terhadap kawan,  atasan maupun bangsa dan negara.  

Sekitar Seminggu Setelah G 30 S 1965: Dimasukkan Sel Tahanan

Karier militer yang tengah dijalani Ngatimin berbalik drastis kuran lebih seminggu setelah terjadinya Peristiwa 30 September 1965. Dalam sebuah apel yang dipimpin Letkol RH Soekardjiman, Ngatimin mendengarkan pidato Soekardjiman yang mengatakan bahwa telah terjadi kup di Jakarta. “Jadi waktu itu kita di juru bayar kalau pulang disuruh jaga dipinggir-pinggir pasar (jalan raya, Jt), suruh jaga itu,”tutur Ngatimin. Menurut Soekardjiman, sebagaimana dituturkan Ngatimin, kebijakan itu diambil karena PKI hendak melakukan penyerangan ke markas mereka. Karenanya pasukan disiapkan di sepanjang jalan raya. Ngatimin sendiri pernah ikut mengamankan rombongan menteri dari Kabinet 100 Menteri yang baru pulang dari Aceh. Melihat konvoi tersebut, dalam Ngatimin sempat bingung timbul rasa bingung. “Katanya di Jakarta kup, kok menteri di sini, itu kan bingung-bingung (saya) itu”, ungkap Ngatimin.

Kebingungan Ngatimin semakin bertambah ketika seminggu setelah peristiwa itu, berkisar tanggal 6 atau 7 Oktober, Ngatimin tidak ingat persis, ia disuruh menghadap komandannya. Katanya ia hendak diajak ngobrol-ngobrol. Tanpa rasa curiga Ngatimin kemudian menemui Soekardjiman. Namun Ngatimin mulai heran ketika mengetahui bahwa ia dibawa menemui Soekardjiman ke sebuah ruangan dekat kamar sel tahanan. Begitu bertemua Soekardjiman, Ngatimin diperintahkan untuk menyerahkan pistolnya. “Pinjam pistolnya dulu, ini mau diganti”, kata Soekardjiman sebagaimana dituturkan ulang Ngatimin. Tanpa perasaan bersalah, Ngatimin menyerahkan pistol itu. Namun tanpa diduga, ia tiba-tiba ditolak ke dalam kamar sel itu dan kemudian pintu sel ditutupnya.         

Selama satu minggu, Ngatimin disel tanpa pernah mengetahui kesalahan apa yang diperbuat dirinya. Tak ada juga interogasi.

Seminggu kemudian, Ngatimin dibawa ke ruang Soekardjiman. Itulah untuk pertama kali Ngatimin diinterogasi. Ngatimin ditanya berdiri pada pemerintahan yang mana. Selaku prajurit, Ngatimin menjawab bahwa ia mengakui pemerintahan yang sah, yaitu pemerintahan Soekarno. Soekardjiman kemudian mengatakan bahwa ia sudah mengetahui aliran (ideologi) Ngatimin Maksudnya bahwa Ngatimin lebih condong ke PKI. Ketika ditanya darimana Soekardjiman mengetahuinya, sang komandan menjawab: “Karena kamu Ngatimin kampret kan?”            

Mendengar jawaban itu, Ngatimin jadi bingung. Siapa Ngatimin Kampret? “Saya kan anggota Bapak. Saya kan namanya Ngatimin Hadipranoto,”ujar Ngatimin. Namun Soekardjiman bukannya menjawab, Soekardjiman malah memerintahkan polisi batalyon membawa Ngatimin kembali ke sel. Interogasi selesai hari itu. Kebetulan dekat sel dimana Ngatimin ditahan, ada ruangan tempat menyimpan telpon. Penjaga telpon disitu, Parno, dikenal sama Ngatimin. Suatu kali pernah Ngatimin mendengar Parno berbicara melalu telpon. Ngatimin mendengar Parno menyebut-nyebut nama Ngatimin Kampret yang katanya sudah lari-lari dikejar Brimob. Pada kesempatan lain, ia juga mendengar percakapan telpon bahwa Ngatimin telah membawa 40 orang pasukan dan dua sepeda motor hendak menyerang Belarang. Mendengar percakapan telpon itu, Ngatimin akhirnya sadar bahwa ia telah menjadi korban fitnah saja. Namu Ngatimin tak berdaya. 

Dibawa Ke Kebun Sawit Jam 2 Malam

Selama 21 hari ditahan di Markas Armed, Ngatimin mengalami perlakuan interogasi yang tidak manusia. Siapa yang boleh menginterogasi, membentak-bentak, menghardik dan bahkan menganiaya sesuka hati. “Nggak PM saja yang meriksa, pokoknya semua-semua bisa gertak, kita kan nggak tahu itu, pukul pergi, pukul pergi, gitu aja kerjanya,”papar Ngatimin. Tuduhan yang ditimpakan kepada Ngatimin ada 4 hal, yakni mencuri 12 pucuk meriam, 21 peti senjata cung (senapan Tiongkok),  menyimpan alat pencungkil mata, dan sebagai prajurit terlalu setia kepada Soekarno. Ngatimin mengatakan tuduhan itu tak masuk akal. Satu biji pun ia tidak pernah tahu senapan cung dan alat pencungkil mata. Sedangkan tuduhan mencuri meriam sebanyak 12 buah sangat mengada-ada. “Meriam cuma empat biji kok, bisa dibilang hilang 12 biji”, ujar Ngatimin. Soal kesetiaan terhadap Soekarno, Ngatimin menganggap hal yang wajar.

“Jadi siapa lagi (yang harus dipercaya), memang Soekarno masih pemerintahan kita”, ujar Ngatimin.           

Dari markas Armed, Ngatimin kemudian dipindahkan ke Pos Militer (PM) di Jalan Binjai. Di tempat ini, pemeriksaan tidak  kenal istilah siang dan malam. Sesuka-suka yang memeriksa. Pernah pukul 2 malam Ngatimin dibawa ke kebun sawit dengan hanya ditemani lampu senter. Situasi perkebunan sawit gelap gulita karena tidak ada penerangan. Beberapa tembakan dilepas ke udara. Ngatimin ditinjau, disepak dan ditendang. Para PM yang menyiksanya berteriak: “Ini anaknya Soekarno, tembak saja!” Ngatimin juga dibentak-bentak: “Kamu PKI bukan?” Karena menjawab bukan PKI, maka tendangan kaki dan tamparan tangan mendarat di tubuh Ngatimin. Berbagai siksaan fisik memang kerap diterima Ngatimin. Kursi kayu yang dihantamkan ke kepala menurut Ngatimin sudah seperti sarapan pagi buatnya. Apalagi sepatu lars yang mendarat di telinga.            

Ada beberapa kali Ngatimin dipindah-pindahkan dari satu tempat tahanan ke tempat tahanan lainnya. Yang jelas menurut Ngatimin perlakuan tentara terhadap dirinya dan sesama tahanan yang lain, yang juga tentara, sangat tidak manusiawi. Jatah makanan yang diberikan misalnya berupa nasi jagung yang dicampur serbuk kaca halus dan air serantang. Sayur kangkung yang direbus rasanya seperti dicampur air kencing. Terkadang Ngatimin dan para tahanan lainnya terpaksa makan rumput karena jatah makanan yang terbatas. Sudah itu mereka juga kerap diperkerjakan membuka hutan-hutan untuk dijadikan areal perkebunan.  

Tahun 1972 Bebas Murni 

Bagi Ngatimin, selama ditahan rezim orde baru, bukan saja siksaan fisik yang  menjadi bebannya, tapi terlebih dari Ngatimin merasa bahwa haknya sebagai manusia merdeka telah diinjak-injak dan dirampas rezim orde baru. Itu yang paling menyakitkan bagi Ngatimin. Total Ngatimin  harus menjalani penahanan selama 7 tahun. Tahun 1972, Ngatimin dibebaskan dengan status C3. Itu artinya Ngatimin masuk dalam kategori bebas murni.            

Namun pada kenyataannya, Ngatimin masih mengalami perlakuan diskriminasi, baik dari lingkungan sosial maupun dari dinas ketentaraan tempat dulu ia mengabdi. Ia tak bisa mengurus uang gajinya sebagai prajurit kader selama 7 tahun ditahan. Walau paska reformasi 1998, ia sudah mondar-mandir ke Kodam I/BB, termasuk meminta bantuan ke LBH dan Komnas HAM bersama sesama bekas tahanan lainnya.

Menjadi Tukang Becak dan Penjual Ikan Keliling

Sementara lingkungan sosialnya juga masih mencibir sinis terhadap diri dan keluarganya. Mencari pekerjaan juga susah, karena dipersyaratkan adanya surat keterangan bersih diri. Akibatnya pekerjaan yang dilakoni Ngatimin sejak keluar dari penjara tahun 1972, adalah menjadi tukang becak! Pekerjaan itu ditekuni Ngatimin selama kurang lebih 7 tahun. Tahun 1989, Ngatimin merasa fisiknya sudah tidak kuat lagi untuk mengayuh pedal becak. Ia kemudian memutuskan berjualan ikan. Dengan menggunakan sepeda ia kemudian berkeliling dari satu kampung ke kampung lain. Ia bisa membawa 10 sampai 15 kg ikan basah yang diambil dari seorang pedagang di sebuah pasar. Tapi karena sering sakit-sakitan, tahun 1998 Ngatimin kemudian tak lagi kuat berjualan ikan keliling. Ia kini praktis menganggur. Tak ada lagi yang dikerjakan selain memberikan pengajian kepada anak-anak kecil dan remaja.          

Ngatimin kini menggantungkan hidupnya dari bantuan anak-anak dan menantunya. Di rumahnya yang sederhana di Desa Bintang Terang, Diski, Medan, Ngatimin yang lahir tanggal 17 Agustus tahun 1936 itu kini hanya berharap bahwa suatu saat bahwa pemerintah akan memikirkan nasib para tentara seperti dirinya yang menjadi korban kesewenangan rezim orde baru. 

Versi lain sinopsi ini daat dibaca dalam Buku “Menembus Tirai Asap, Kesaksian Tahanan Politik 1965, 2003, Yayasan Lontar, Jakarta. 


Tanggapan

  1. Zionism_and_Racism

    Albert von Schrenck-Notzing Walter H. Annenberg List of people born in the Kaaba Globig-Bleddin Mustela sibirica GamesTM magazine Kropstaedt Camel jockeys Teletraffic Time Division Multiplexing Fluke discography

  2. Senang bertemu sesama pengagum Soekarno.
    Kapan mampir di warungku:

    http://penasoekarno.wordpress.com

    Aku punya koleksi foto Soekarno untukmu

    Salam Revolusi


Beri tanggapan

Your response:

Kategori