Belajar Berpikir Kritis, Bukan Stereotipik
Oktober tahun 1993 adalah mula pertama saya menginjakkan kaki di Kota Pematangsiantar. Sebelum berangkat ke kota kecil yang tertata apik ini, teman saya mengingatkan bahwa orang Tionghoa di Pematangsiantar, dan juga di Medan, umumnya lebih suka menggunakan bahasa hokkian. Khususnya jika mereka berkomunikasi dengan sesama orang Tionghoa. Peringatan teman saya ini penting. Sebab saya sendiri sudah tak bisa lagi berbahasa hokkian, apalagi Mandarin. Maklum, di Pulau Jawa saya tinggal di sebuah desa kecil, dimana komunitas Tionghoa berjumlah minoritas. Lingkungan dimana saya tinggal adalah orang Jawa, yang sehari-hari menggunakan bahasa banyumasan, yang sering diejek karena logatnya ngapak-ngapak!
Saya sendiri walau sudah tinggal di Medan dan Siantar selama kurang lebih 14 tahun, menurut teman-teman, masih cukup kental logat Banyumasannya.
Tiga hari setelah menetap di Pematangsiantar, saya memasuki sebuah rumah makan yang berjualan mie pangsit. Saya ingin mencicipi enaknya pangsit kota ini. Sebenarnya teman-teman saya di kantorlah yang telah berhasil memprovokasi saya. Mereka bilang pangsit Siantar tak ada dua rasanya! Orang-orang dari Medan, bahkan turis dalam negeri sekalipun, jika mampir ke Siantar pasti akan menyantap pangsit Siantar. .
Tergiur bujuk rayu tersebut, maka suatu hari saya pun bertandang ke sebuah rumah makan seperti ditunjuk teman-teman di kantor. Rumah makan itu terletak di jalan Merdeka. Bentuknya hanya sebuah ruko dengan meja dan kursi dibuat berjejer ke belakang. Ketika saya masuk ke rumah makan itu, seorang encim (panggilan untuk seorang ibu Tionghoa yang sudah cukup tua) menyapa saya. Seperti diramalkan teman saya, encim itu menyapa saya dengan bahasa hokkian.
Saya tentu saja dibuat jadi gelagapan. Lalu dengan santun, yang berkata dalam bahasa Indonesia. ”Maaf encim, saya tak ngerti bahasa hokkian, pakai bahasa Indonesia saja,”kata saya. Sejurus, encim itu menatap saya. Ada segurat raut keheranan tergambar di wajahnya yang mulai berkeriput. Kemudian dia tersenyum dan berujar: ”Ohh, saya pikir kamu orang Tionghoa, rupanya kamu orang Indonesia ya? Mau makan pangsit?”katanya.
Saya mengangguk, sembari tersenyum sedikit kecut. Saya tak ada minat untuk menjelaskan salah paham tersebut. Soalnya, encim itu juga segera berlalu meracik bumbu mie pangsitnya. Untunglah rasa mie pangsit tersebut memang benar-benar enak, sehingga mampu menghapus kekecutan hati saya. Kejadian sejenis saya alami dengan subyek berbeda. Suatu hari saya berkeinginan menyantap mie bakso. Maka bertandanglah saya ke sebuah warung mie bakso yang terletak di Simpang Empat Jalan Asahan.
Penjualnya seorang ibu, seorang keturunan Pujakusuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Dengan kata lain, tulen seorang Jawa. Maka dengan berbekal bahasa Jawa Kromo Inggil (bahasa Jawa halus), yang sedikit-sedikit masih saya kuasai, saya lalu memesan mie bakso dan segelas teh manis hangat. ”Nyuwun teh manise setunggal bu,”kata saya, begitu duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu.
Bukannya memenuhi permintaan saya, sejurus ibu itu menatap wajah saya. Ada keheran menyembul di raut wajah ibu itu. Saya tersenyum sembari mengulangi permintaan dengan bahasa Jawa halus. Hasilnya sungguh tak terdua. Tiba-tiba ibu itu berkata setengah riang: ”Ooaalah, njenengan tiyang Njawi to? Kupikir njenengan tiyang Cino!” Wah, posisi satu-satu, batin saya!
Apa hikmah yang bisa diambil dari 2 (dua) kasus salah paham yang saya alami tersebut?
Si encim karena mendengar saya tak bisa baha hokkian langsung memvonis bahwa saya bukan orang Tionghoa. Sementara si ibu yang Jawa tadi karena mendengar saya bisa berbahasa Jawa, walau kulit tubuh dan wajah saya khas orang Tionghoa, langsung beranggapan bahwa saya orang Jawa!
Sebagian warga dari bangsa ini memang masih banyak yang berpikir secara stereotipik. Menurut para ahli, stereotip adalah gambaran yang digeneralisir dan tercipta karena prasangka terhadap suatu kelompok tertentu, terlalu disederhanakan sehingga seseorang memandang seluruh anggota kelompok itu memiliki sifat pembawaan tertentu, biasanya negatif (Simon Fisher dkk: 2000). Contohnya, di masyarakat ada stereotip bahwa orang Aceh pemalas.
Sudah tentu stereotip seperti ini jauh api dari panggang. Soalnya banyak juga teman-teman Aceh yang saya kenal orangnya sangat rajin, dan giat bekerja. Ada juga stereotip bahwa masyarakat Tionghoa a-politis! Padahal kenyataannya banyak juga pemuda Tionghoa yang terjun ke dunia politik. Giat bekerja dan berpolitik memang tak ada kaitannya dengan kesukuan seseorang!
Dengan kata lain, dalam pandangan yang stereotipik, suatu kelompok dipandang dan dianggap sama dan sebangun alias homogen (Agus Sudibyo dkk:2001). Stereotip karenanya hanya mengandung sedikit kebenaran. Selebihnya adalah prasangka, bahkan tidak tertutup kemungkinan bercampur rasa benci.
Yang berbahaya adalah ketika perilaku seseorang diidentikkan dengan perilaku golongan atau etnis. Stereotip etnis merupakan energi sosial untuk terciptanya tindak diskriminasi. Kalau prasangka dan stereotip berakar kuat dalam suatu masyarakat, diskriminasi dapat tercermin dalam hukum dan lembaga-lembagan dan juga dalam perilaku individu di masing-masing pihak (Simon Fisher dkk: 2000, hal., 98). Dengan demikian, diskriminasi lebih merupakan praktek sosial dan individual yang dipicu karena adanya prasangka dan stereotip.
Diskriminasi yang bersumber karena perbedaan etnis disebut rasialisme. Dan rasialisme biasanya dipicu karena adanya klaim bahwa satu ras merasa lebih unggul dibanding ras lainnya. Itulah yang disebut rasisme lama, yang di beberapa negera barat dilegitimasi oleh ideologi rasis yang mengklaim keunggulan biologis dan “alamiah” orang kulit putih. Manifestasi dari rasisme lama yang khas dapat dilihat pada gerakan apartheid di Afrika Selatan dan Gerakan Hak-Hak Sipil pada 1960-an.
Namun dewasa ini ada rasialisme baru, yang diwujudkan dan diekspresikan melalui teks media. Contohnya dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, wawancara kerja, rapat pengurus, debat di parlemen, propaganda politik, perilklanan, artikel ilmiah, editorial, berita, foto, film, dan sebagainya. Melalui berbagai teks tersebut, sebuah kelompok digambarkan tidak sebagaimana mestinya, yang dinyatakan dengan cara meyakinkan, tampak sebagai kewajaran, masuk akal, alamiah, dan terlihat/tampak sah (Sandra Kartika: 1999). Misalnya ungkapan “sekali Cina tetap Cina”, “dasar keling ular”, atau “Jawa lamban” dsb.
Ungkapan-ungkapan tersebut tentu saja mendistorsi realita sebenarnya. Misalnya ungkapan “sekali Cina tetap Cina” yang hendak menggeneralisir bahwa semua orang Tionghoa sama saja: mereka itu binatang ekonomi! Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai orang Tionghoa yang dermawan, suka menyumbang ke sana-kemari. Tentu saja diantara mereka ada yang pelit! Soalnya pelit, sekali lagi, memang tak berhubungan dengan kesukuan. Tapi murni karena sifat egoisme.
Soal stereotip orang Keling yang di-tipikal-kan licik, dalam keseharian tentu juga tidaklah demikian. Banyak juga dari mereka yang tulus dan baik hati. Demikian juga gambaran bahwa orang Jawa lamban, sudah tentu juga tidak benar! Orang Jawa justru banyak yang menjadi pekerja keras maka mereka sampai didatangkan ke Medan dari Pulau Jawa!
Barangkali memang sudah saatnya kita mengubah cara berpikir yang stereotipik, menjadi cara berpikir yang kritis! Soalnya realita memang tak pernah satu warna, tapi berwarna-warni. Marilah kita mulai menjenguknya secara teliti, jangan main gebyah uyah kata orang Jawa! Inilah hikmah yang bisa dipetik dari kesalapahaman yang dibuat penjual mie pangsit dan mie bakso Siantar. ***








wah makasih, buku yang saya sunting dijadikan referensi.
Oleh: sandra kartika on Juni 7, 2007
at 1:46 pm
senang bisa komunikasi dengan sandra, saya kebetulan kerja di yayasan kippas medan, buku itu memang jadi rujukan analis media di kippas ketika melakukan riset berita pers yang banyak terjebak dalam cara pandang yang stereotipik.
Oleh: buntomijanto on Juni 8, 2007
at 2:52 am
kita memandang seseorang jangan dari tampang atau ras yang penting kita harus mencintai negri kita sendiri dan jangan selalu menyampingkan golongan minoritas kita ini wong jowo keturunan tionghoa aya kepengin memegang teguh kebinekaan
kita kan lahir di negri indonesia jadi saya asli orang indonesia dong gitukan
Oleh: djono on Juni 24, 2008
at 9:59 am