Oleh: buntomi | Mei 30, 2007

Eksodus Warga Keturunan China, Pers Terjebak Cara Pandang Stereotipe?

Tajuk Rencana Harian Waspada tanggal 22 April mengulas tentang fenomena eksodus yang dilakukan sejumlah warga keturunan China Indonesia ke luar negeri dengan semakin mendekatnya pelaksanaan Pemilu Juni 1999. Penulis tajuk tersebut berkeyakinan bahwa eksodus yang dilakukan warga keturunan China diakibatkan belum adanya jaminan keselamatan mereka jika harus tinggal di tanah air yang diramalkan akan kembali bergejolak. Kasus kerusuhan bulan Mei 1998 disertai tindak penjarahan, pembakaran, penganiayaan dan pemerkosaan terhadap sejumlah besar warga etnis China tampaknya menjadi alasan utama terjadinya eksodus tersebut.

Namun sudah tentu tidak semua pihak bisa menerima alasan tersebut. Pihak yang kontra menganggap aksi eksodus menunjukkan bahwa perilaku sejumlah warga etnis China tersebut memang terkesan mau cari untungnya saja. Jika keadaan negara normal mereka giat menggaruk kekayaan alam negeri RI, sebaliknya jika keadaan di tanah air tidak menguntungkan, maka mereka segera menyelamatkan diri. Tak heran, jika kemudian muncul keragu-raguan terhadap rasa nasionalisme sebagian warga keturunan China.

Bagaimana sebenarnya kita memahami eksodus tersebut secara proporsianal ?

Faktor Rasa Aman
Tajuk rencana Harian Waspada menulis bahwa ditengah ketidakpastian situasi san kondisi sosial politik, sosial ekonomi menjelang Pemilu sekarang ini, memang membuat rasa was-was bagi siapa saja…… terdapat sejumlah hal yang rasanya amat layak untuk menjadi perhatian pemerintah, terutama pihak berwenang untuk benar-benar dapat memberi jaminan rasa aman kepada setiap warganegara. Masalah ini bukan tanggung jawab pihak keamanan semata, tetapi juga tugas seluruh warga negara pri maupun non pri.

Apa yang dipaparkan penulis tajuk rencana itu memang benar. Rasa tidak aman, baik secara fisik maupun non fisik (teror, intimidasi, atau perilaku yang bersifat memusuhi), memang tak mengenal perbedaan jenis kelamin, agama, etnis atau warga negara. Orang yang merasa mendapat ancaman, apalagi yang baru saja mengalami trauma kekerasan, akan mengambil dua (2) pilihan dalam merespon terhadap ancaman tersebut. Pilihan pertama, orang tersebut melawan dengan risiko apapun. Pilihan kedua, orang tersebut akan menghindar sejauh mungkin. Bisa karena takut, tapi bisa juga karena orang tersebut tidak menginginkan kekerasan.

Gambaran itu barangkali mewakili sejumlah warga keturunan China yang kini diberitakan ramai-ramai menyelamatkan diri dengan pergi, untuk sementara waktu, ke luar negeri. Kejadian yang agak sama dialami bekas Gubernur Timor Timur, Ir Mario V. Carrascalao, yang melakukan eksodus ke Makao, terakhir menetap di Portugal. Carrascalao terbang ke luar negeri karena merasa terancam keselamatannya. Mantan gubernur Timtim itu mengatakan jika keadaan tanah air sudah aman kembali, ia berniat untuk pulang ke tanah air.

Setiap warga keturunan yang melakukan eksodus, Mario Carrascalao juga dihujat, bahkan diancam dikeluarkan sebagai anggota DPA. Namun yang dialami sejumlah warga keturunan China mungkin lebih ekstrim lagi. Para wartawan, yang masih sering terjebak dalam prasangka etnis dalam membuat berita tentang etnis China, segera mengecek biro-biro perjalanan, bahkan tidak sedikit yang nongkrong di bandara. Mereka juga sibuk meminta komentar sejumlah pakar untuk membahas kasus tersebut. Pendek kata, kepergian sejumlah warga keturunan China itu, yang bisa jadi ingin mengisi waktu liburan sekolah, ibarat gempa politik yang mencabik-cabik Indonesia.

Anehnya, pers terkesan melunak ketika dijumpai fakta bahwa yang melakukan eksodus ternyata bukan hanya dari kalangan warga keturunan China saja, melainkan banyak juga dilakukan keluarga pejabat atau golongan menengah ke atas. Rosita Noer, Ketua Umum Forum Komunikasi Persatuan Bangsa (FKPB), memperkirakan lebih banyak pejabat atau mantan pejabat dan keluarganya yang siap melakukan eksodus ke luar negeri dari pada warga keturunan China (Waspada, 25/4/99).

Diskriminasi Pemberitaan ?
Dalam hal ini, pers secara tidak sadar telah melakukan diskriminasi dalam membuat pemberitaan. Mungkin hal ini tidak disadari oleh si wartawan atau redaksi yang menerbitkan berita tersebut. Tapi mungkin juga pers sangat sadar bahwa mengobok-obok warga keturunan China memang tak berbahaya, dibanding kalau mengobok-obok etnis Jawa, Batak, Melayu atau etnis pribumi yang lain, sementara selling pointnya cukup tinggi untuk mendongkrak oplah surat kabarnya.

Penulis tujuk Waspada benar jaminan keamanan dari negara semestinya diterima oleh warga tanpa membedakan asal-usul etnis. Namun bagi warga keturunan China kenyataannya bisa berbeda. Dari rekaman video para wartawan elektronik yang ditayangkan televisi swasta, terkesan bahwa pada kerusuhan Mei lalu, aparat keamanan seolah membiarkan rasa tidak aman dialami warga keturunan China. Upaya aparat keamanan untuk mencegah proses penjarahan atau pengrusakan harta benda milik warga keturunan China, seperti kurang serius dilakukan. Akibatnya dalam kerusuhan Mei lalu, banyak warga keturunan China yang terpaksa harus membeli jasa keamanan agar memperoleh rasa aman.

Sudah tentu, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kita patut menyayangkan sikap yang dipilih sejumlah warga keturunan China yang mengungsi sementara di negara lain tersebut. Apalagi jika dalam eksodus tersebut, ada yang sekaligus memboyong harta-bendanya. Namun secara manusiawi, kita bisa menerima sikap orang untuk menghindar dari kekerasan. Apalagi jika ancaman kekerasan itu berpotensi untuk merampas kemerdekaan hidupnya. Tapi yang jelas, sikap melarikan diri itu tidak akan menyelesaikan masalah diskriminasi yang dialami warga keturunan China.

Mendiskusi tentang masalah eksodus ini, penulis jadi teringat dengan nasib Yap Tjwan Bing, seorang warga keturunan China dan anggota PPKI yang ikut merancang negara muda RI. Yap Tjwan Bing, dalam otobiografinya menulis: Musibah yang menimpa keluarga saya pada peristiwa 10 Mei 1963 itu adalah dibakarnya sebuah mobil baru kami oleh para pemuda dan perusakan bungalow kami yang terletak di jalan Lembang, Bandung. Para pemuda yang membakar dan merusak barang itu tidak bertanya siapa pemilik barang itu, tapi apakah barang-barang itu kepunyaan orang China atau bukan. Saya yakin, apabila pemuda perusuh itu mengetahui bahwa barang itu adalah milik saya, maka mereka tidak akan membakar ataupun merusaknya, karena saya culup dikenal oleh para pemuda di Bandung. (Yap Tjwan Bing, Otobiografi Seorang Pejuang Kemerdekaan. PT Gramedia, Jakarta, 1988, hlm. 79).

Yap Tjwan Bing bersama tokoh-tokoh seperti Adam Malik, K.R.T dr.Rajiman Widyodiningrat, Mr. Sartono, Prof Dr. Ir. R Rooseno serta tokoh-tokoh lain yang bergabung dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), adalah salah satu pelaku sejarah yang ikut mementukan berdirinya negara Republik Indonesia. Namun, perjuangan Yap Tjwan Bing dalam ikut mempersiapkan dan mengisi negara Republik Indonesia yang masih muda tersebut, menemukan klimaksnya pada tahun 1963. Pada tanggal 8 dan 9 Mei terjadi aksi massa di kota Cirebon dan Tegal. Terjadi gerakan merusak dan membakar barang-barang milik golongan masyarakat keturunan China. Kerusuhan itu kemudian merembet ke kota Bandung, dimana Yap Tjwan Bing bermukim.

Pada tanggal 10 Mei 1963, aksi massa itu berhasil membakar mobil dan bungalow mereka. Pembakaran mobil, pengrusakan bunglow sangat dirasakan oleh istri saya sebagai seorang wanita. Ia terus menangis dan tidak dapat memahami atau mengerti mengapa para pemuda melakukan hal ini. Menurut pendapatnya, kami telah ikut berjuang dan membantu pemerintah Republik Indonesia sejak awal berdirinya (halaman. 79)

Walau Gubernur Jawa Barat waktu itu Mashudi sangat menyesalkan hal tersebut, namun sejak peristiwa itu istri saya terus dibayangi oleh ketakutan yang amat dalam. Yap Tjwan Bing dan keluarganya akhirnya memilih pindah dan menetap di Amerika Serikat. Selain didorong rasa trauma tersebut, kepindahan mereka juga disebabkan anak mereka, Yap Siong Hoei, yang mendapat serangan polio myelitis, harus memperoleh pengobatan yang serius di Amerika Serikat.

Apa yang dialami Yap Tjwan Bing memang berbeda dengan yang dialami oleh sejumlah warga keturunan China yang melakukan eksodus. Namun ada satu pelajaran yang dipetik dari sana: bahwa ancaman kekerasan, apalagi dalam situasi kerusuhan yang kacau balau, tak mengenal lagi apakah itu warga China yang baik atau yang korup seperti Edi Tanzil. Apalagi dalam masyarakat kita dewasa ini masih ada prasangka kuat bahwa semua etnis China itu kaya, dan hasil kekayaan itu diperoleh melalui KKN dengan pejabat !

Oleh karena itu, yang perlu ditumbuhkan bagi warga keturunan China adalah menyadarkan haknya sebagai warga negara RI yang berdaulat dan menolak segala bentuk didiskriminasi. Dan perjuangan kearah itu, harus dilakukan secara bersama-sama dengan warga negara lain. Tidak perlu dengan membentuk wadah yang eksklusif, yang justru akan menimbulkan masalah yang baru lagi.

Porsi Yang Seimbang
Satu hal yang luput dari pemberitaan pers kita selama ini adalah kurangnya pers memberikan porsi pemberitaan bagi warga keturunan China yang memilih untuk tinggal di tanah air, dengan risiko apapun yang akan dihadapi. Pers barangkali bisa belajar dari kerusuhan Mei lalu. Dari beberapa informasi yang penulis peroleh, ternyata banyak warga keturunan China bersama-sama dengan warga pribumi lain dan unsur siskamling, melakukan perlawanan terhadap para provokator. Mereka mempersenjatai diri semata-mat untuk membela agar tidak menjadi korban kerusuhan.

Harian ini memang mencoba membuat berita yang berimbang. Pemberitaan Waspada tgl 26/4, memuat wawancara dengan sejumlah etnis China di Pematang Siantar yang memilih tetap tinggal di tanah air walau ada isu bakal terjadi kerusuhan. Eksodus ke luar negeri bukan jalan terbaik, ujar Robin, seorang warga keturunan China yang juga ketua LKMD Kelurahan Dwikora (Waspada, 26/4).

Tentu, masih banyak Robin-robin lain yang bisa diwawancarai oleh insan pers. Robin-robin yang tidak melakukan eksodus, dan tetap memilih tinggal di tanah air, walau resiko terburuk bisa mereka hadapi. Barangkali jika pers bisa ikut memberi kesejukan bagi masyarakat, khususnya masyarakat etnis China yang kerap diobok-obok oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja dibutuhkan !

Tulisan ini dimuat di harian Waspada, 3 Mei 1999


Tanggapan

  1. Insya Allah akan terjadi kerusuhan hebat anti etnis china, kalau kelakuan mereka seperti menyuap pejabat, membabat hutan, menilep uang bank, menggelapkan pajak, nenyeludupkan komoditas baik ke dlm negeri maupun keluar negeri, menjadi bandar besar narkoba, menyiksa pembantu pribumi, memeras keringat buruh, diskriminasi dalam menerima karyawan, dan selalu mengeluh bahwa etnis cina selalu diperlakukan tidak adil oleh negara.
    Gambaran: Penilep terbesar uang negara adalah mereka, dibandingkan korupsi kaum pribumi. Buktinya 99% dana BLBI mereka yg Rampok. Ribuan trilyun dularikan ke RRC dan Singapura. Pribumi dihukum mereka bebas. Raja narkoba mereka pegang, begitu juga raja judi, pelacuran. Hutan mereka babat, 90% cukongnya adalah mereka, tapi tak tersentuh hukum. Siapa bilang di jaman orba mereka diperlakukan tdk adil, merekalah yg menikmati kue pembangunan paling besar dengan menerima kredit bank trilyunan, konsesi lahan hph jutaan hektar. Jendral M. Yusuf ketemu presiden di istana berpakaian lengkap sementara Liem Swiliong hanya berpakaian olahraga naik ke istana, di gampar Pak Yusuf, pak Yusuf terpental. Baharuddin Lopa, bermasalah dgn Toni Ghozal (etnis cina), karirnya macet di kejaksaan.

  2. Persoalannya, apakah seluruh orang China di Indonesia berkelakuan seperti yang Anda bayangkan? Realita tak pernah seragam, walau Soeharto dulu maunya begitu…… Bahkan jari tangan kita pun ada yang besar, kecil, panjang dst. Bagi saya, soal kejahatan seperti menyuap, narkoba, ngemplang utang, tak ada hubungannya dengan etnis atawa suku! Jadi korupsi tak mengenal Ke-Chinaan seseorang atau ke-Jawaan, ke-Batak-an, ke-Madura-an dsb… Korupsi ya tetap korupsi, siapa saja bisa melakukannya. Tapi ini pandangan saya. Walau berbeda, saya menghormati pandangan Anda!

  3. eh andi. emang u punya bukti kalau org cina pada korupsi?.coba buka mata u,di Indonesia orang apa yg memimpin di pemerintahan. apa pada bener dia orang

  4. Ada satu kelebihan kita “bangsa Indonesia” yang besar ini ( ini hanya salah satu kelebihan kita ), kelebihan ini sulit untuk kita temukan dibangsa lain.

    Mungkin ada hubungannya dengan ke Dunia Supranatural. ( masa iya ????? )

    Kelebihan itu adalah sebagian besar bangsa kita menggunakan cermin ajaib dalam kehidupannya sehari-hari ( jangan-jangan di rumah juga ya he he he he ).

    Selidik punya selidik cermin ajaib ini ternyata khasiat yang luar biasa.

    setiap kali bercermin yang kelihatan cuma bayangan orang lain, bayangan sendiri sampai kapanpun gak bakalan kelihatan.

    Tentunya ini menyulitkan sekali bagi mereka yang ingin merias, cukur jenggot, latihan drama ( agar ekspresi kelihatan dong) dll.

    kekuatan cermin ajaib ini semakin bertambah, khawatirnya akan ( jangan-jangan sudah ???? ) menular ke benda-benda lain.

    mudah-mudahan dengan doa kita bersama, cermin ajaib tersebut segera kehilangan keajaibannya sehingga mampu menunjuk bayangan semua benda yang ada didepannya.

    Sadhu.

  5. Dari logika dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang mapan di Indonesia sebetulnya anti kemapanan. Pengrusakan justru di lakukan oleh orang yang mapan, penduduk miskin di desa hampir tidak pernah mengadakan pengrusakan.

  6. Andi Sangka, namanya emang pas..penuh prasangka sih!

    Insya Allah akan terjadi kerusuhan hebat anti etnis china : allah dibawa2 nih?

    menyiksa pembantu pribumi : yg nyiksa tu bukannya orang arab?

    memeras keringat buruh : namanya juga buruh, pekerja kasar, klo yg nggak keringetan itu mah pekerja kantoran(mikir doang)

    selalu mengeluh bahwa etnis cina selalu diperlakukan tidak adil oleh negara : lah emangnya nggak adil koq(dulu, skrg udah jauh berkurang) ky elu nggak pernah ngeluh aja bensin naik, sembako naik..

    ngaca dong ngaca!
    kesimpulannya sih: andi rasis!
    bener toh?

  7. MENURUT SAYA YANG KORUPSI KOLUSI TUH BUKAN ORANG CINA SOALNYA SEKARANG KAN MULAI KELIHATAN YANG KORUP TUH PARA PEJABAT DAN KELUARGANYA SUKA MINTA DUIT KALO NGAK DIKASI URUSAN NGAK DIURUS DITARUH DIBAWAH MEJA ITU BUKAN RAHASIA CUMAN ORANG BUTA UDIK YANG TINGGAL DI PELOSOK HUTAN RIMBA YANG NGAK TAHU,YANG NILEP UANG BANK TUH PEJABAT BI DAN KRONI PEJABAT SEKARANG KEBUKTI KAN YANG NGELAPKAN PAJAK JUGA MEREKA, DAN BETUL YANG MENYIKSA PEMBANTU BAHKAN MENGHAMILI ITU ORANG ARAB DAN MALAYSIA YANG MENGANGAP ORANG INDO SEBAGAI BUDAK SEDANG KEJAHATAN LAIN LEBIH BANYAK ORANG INDO SENDIRI YANG MELAKUKAN.MUNGKIN ORANG ORANG SEPERTI ANDI SANGKA DARIPADA KERJA SEBAGAI PEKERJA PADA ORANG CINA LEBIH SUKA JADI BUDAK ORANG ARAB, MALAYSIA,ATAU BUDAK BANGSANYA SENDIRI. BANGSA INDONESIA TIDAK AKAN PERNAH DAPAT KELUAR DARI KESULITAN SELAMA CARA BERPIKIR SEPERTI ANDI SANGKA MASIH ADA

  8. orang china pelit, jarang gaul sih ma non chinese, dah gitu kalo punya calon menantu selain china ga di boleh. loh edi tansil keturunan mana ya?? skarang ada di mana ya?? kalo cheng ho keturunan mana ya?? lu keturunan han sih… sayangnya gue hui. jadi mana ada yang musuhin gue disini.hahahahahaha

  9. Menurut saya sich, pemikiran saudara Andi Sangka itu tidak relevan, kuno, tidak berpendidikan dan buta. Saudara bisa menilai etnis tionghoa indonesia seperti itu.. Apa saudara tahu siapa yang turut serta membesarkan nama Bangsa Indonesia. Apa SAUDARA tau 9 WALI penyebar ISLAM di Indonesia itu ada yang keturunan Etnis Tionghoa ???.. Pendiri2 kerajaan di Indonesia itu Sapa ??? Dalam bidang Olahraga sapa yang menaikkan harga diri bangsa ??? ..

    Ini pendapat saya , setiap orang boleh berpendapat..thx

    dan Masih banyak lage !!!!Mengenai Korupsi !! Saudara dapat melihatnya Di Tevelisi ??? Apa tidak punya televisi di Rumah ?? Mau Gua beliin ??

    Etnis Tionghoa hanya lah Korban .. Mungkin saudara kurang pergaulan, sehingga tidak mengerti betul dan pikiran saudara hanya sebesar KOTAK SABUN.

  10. wah…. koq semua jadi terpancing sih….,
    koq persoalannya jadi melebar tah kemana2,
    kita boleh sihstuju atw tidak setuju dgn pemikiran si andi, mari sama2 mengoreksi
    apa yang dapat kita berikan dengan masyarakat, dan negara kita ini,
    saya tidak membela si andi, dan dalam beberapa hal juga pantas disalahakan,
    tetapi saya heran, bagi kawan2, saudara2, yang tidak sepahamdengan si andi, malahmemberi respon berlebihan, takut saya, dengan bahasa
    yang salah, malah lebih terlihat lebih naif dari
    pemikiran si andi, koq arab, malaysia, pribumi
    dibawak2, jangan buat kiat lebih naif dari si andi ketika kita sendiri menganaggap si andi saalah !
    perlu angin segar, pemikiran segar, tekad yang tegar untuk membangun negeri ini,
    saya setuju bahwa peran masyarakat china
    dalam membangun negeri ini sangalah besar,
    sepert laksamana ceng ho, sunan kudus,
    rusdi hamka dll, begitu juga dengan kalangan
    pengusa2 turunan china lainya juga sangat banyak memberi kontribusi yang buat negeri ini,
    rudi hartono, halim markus, sofyan tan, dll
    bgiti juga dengansub etnis lainnya di negeri ini, seperti minang, batak, betawi, jawa dll
    peran mereka sangat besar dalam membentk dasar negara ini, hingga diplokramirkan
    negara indonesi, jumat, 17 agustus 1945,
    setelah 64 tahun kita merdeka, setelah
    60 tahun lebih kita nikmati perjuangan dari pahlawan2 negeri ini, dari tetesan air mata
    dan pejuang negeri ini,
    pantaskah kita memperkeruh kesulitan, ketertingalan kita, dengan mempersoalkanyang seharusnya tidak perlu dilakukan,
    apa tidak lebihbaikkah bila kita berpikir lebih arif
    lebih positif, untuk mengisi kemerdekaan
    yang telah pejuang2 negeri ini berikan kepada kita sebagai penerus bangsa,
    mari kta sama menjaga kesatuan dan prsatuan di negeri ini, baik dalam keamanan maupun ekonomi
    dan budayanya, mari sama2 kita bangun negeri
    degan tekad yang bersih,
    mari kita sama kontrol pembangunan di negeri ini
    kita lawan para koruptor, preman, politisi busuk,
    pengusaha nakal, dan kemiskinan.
    siapapun pelakunya, albert kang, adlin lis, olo panggabean, abdillah, ramli lbs, isak cerly,
    ucok mawar, syamsul s, tritatomo, anto keling dan banyak lagi mulai yang teri hingga kakap,
    apakah mereka dari sub etnis batak, jawa, minang, ambun, arab, china, melayu, madura bugis dll.
    apakah mereka aparat pemerintah, pejabat, pengusa, atau pekerja buruh dll
    mari kita lawan mereka, apabila mereka memang salah, ayo kita galang persatuan dan kepedulian untuk indonesia .

    salam nusantara !!!!
    Indonesia Jaya….!!!!

  11. Iya’ semoga prasangka negatif pada terulang kembali ‘Kesalahan Emosi’ Mei 1998 di tanah air yang kita cintai ini tak terulang.

    Hemat saya kita sebagai umat manusia dan khususnya warga yang baik saling menjaga segala bentuk profokator negatif yang terang-terangan maupun tersembunyi yang bertujuan membuat suasana yang tidak ‘NYAMAN’.

    Marilah kita bersama-sama saling menghargai,bahu membahu membangun BANGSA ini ke tempat yang lebih BAIK.

  12. UNTUK LEBIH JELASNYA TENTANG ORANG CHINA DI INDO : TANYAKAN SAJA PADA MEREKA, TANYAKAN SAJA APA RENCANA MEREKA KEPADA INDONESIA, TANYAKAN SAJA BAGAIMANA MEREKA MEMANDANG PRIBUMI….TANYAKAN SAJA APAKAH MEREKA MENCINTAI INDONESIA SEPENUHNYA..TANYAKAN SEBENAR2NYA TANYAKAN DENGAN JAWABAN YANG SEJUJUR2NYA………ITU SAJA………

  13. Membaca pesan diatas.

    Memang ada yang perlu dipertanyakan, saya mulai dari :
    1. soal ETIKA berkomunikasi, untuk anda ketahui anda kelihatan tidak memahami bahwa membuat pesan dengan abjad KAPITAL adalah kurang sopan karena dianggap arogan / marah. dari sisi ini saya bisa menganggap saudaraku adalah orang temperamental.
    2. SELAMATKAN PRIBUMI tentunya bukan nama asli anda,penggunaan nama samaran biasanya hanya untuk keperluan surat kaleng. untuk itu saya mempertanyakan “kenapa anda menggunakan samaran kalau memang anda punya niat baik untuk ikut membicarakan / menanyakan sesuatu yang tujuan akhirnya adalah untuk saling membangun ?”.
    3. Pesan anda diatas bukan untuk menanyakan sesuatu sebagaimana yang dimaksud oleh penulis blog ini, Saudaraku pesan anda itu sudah menunjukkan suatu opini, pesan anda menunjukkan suatu pernyataan bukan suatu pertanyaan.
    4. dengan pesan diatas anda justru meletakkan satu alasan yang kuat kepada komunitas tionghoa bahwa ” ada kelompok yang merasa dirinya ‘PRIBUMI’ terus menerus merongrong keberadaan mereka”.
    5. beberapa waktu yang lalu ketika sedang berbincang-bincang, ada yang nyeletuk ” kalo belum bisa ikut membersihkan, mohon kiranya jangan ikut mengotori”. barang kali pesan yang berkesan seloroh itu masih cocok untuk saudaraku.

    Catatan untuk saudaraku :
    Beranilah untuk memperkenalkan diri dan berubah. dunia tidak sesempit ( maaf ) pikiran anda.

  14. ehh semua yang para anak pribumi…
    jangan pernah menghina china..
    enak aja kalo ngomong..
    tau gak u china tuh jarang ada korupsi..

    malah dinegara ini..
    pada orang pribumi tuh yang banyak korupsi..

    bukan hanya itu indonesia aja udah masuk negara korupsi terbesar di dunia..
    tau lo??

    jangan pernah menyalahkan orang china..

    buktinya aja negara china udha maju..
    bukan kek indonesia..

    zhongguo li hai o ~

  15. Bung Dedy pranata, sungguh keliru kalau saudaraku masih menggunakan istilah china dan pribumi, apalagi dalam urusan berbangsa dan bernegara.

    Persoalan ketidak-senangan etnis satu dengan etnis lain bukan hanya terjadi di Indonesia. cobalah untuk melihat semua persoalan tidak dengan konteks primordial.

    Keharmonisan hubungan manusia seperti bertepuk tangan, tidak akan bisa dilakukan dengan sebelah tangan saja.

    yang berkomentar miring disitus ini ,mungkin saja saudara kita yang kebetulan pendidikan moralnya tidak jelas dan nasionalisme-nya sedikit miring sehingga perlu kita maklumi.

    mari kita hilangkan rasa curiga diantara kita, bersama kita bangun indonesia baru.

  16. kLo gue sih ga peduLi ~~ Mo dari suku manapun di Indonesia ini kLo melanggar hukum ya dihadapkan dengan hukum yang berlaku

    kLo soaL Liem Swiliong hanya berpakaian olahraga naik ke istana, menurut wa sih terserah Liem Swiliongnya dunk ~~ Apakah Anda tau bahwa pada era soekarno para pejabat RI saat itu ketika diundang dalam suatu acara kenegaraan di AS memakai sarung dan songkok ( kopiah ) ? Saat itu negara kita lebih dihormati dibanding skrg !

    Apakah etis dan elok kalau pejabat negara kita meminjam dana ( utang ) ternyata datang ke tmpat deal utang dgn fasilitas yg lebih mewah ( sangat mewah ) dibanding dgn pejabat pemberi utang negara lain di LN ? kLo wa sih maLu ~~ fasilitas mewah tapi utang ~~ mending wa mencontoh pejabat era Soekarno, apa adanya

  17. Asik2 orang2 Uigur lagi dibantain tch sama tentara RRC, moga2 punah tch orang Uighur dari negri TIONGKOK

    semakin EXtremes keAGAMAnsuatu daerah, maka orang2 etnis Tionghoanya akan menjaga jarak, tetapi kalau semakin terbuka orang2 Tionghoa juga berintegrasi, misalnya di SULUT sudah terjadi asimilasi besar2an disana orang Minahasa & Tionghoa

  18. Orang yang menuduh bahwa golongan Tionghoa di Indonesia adalah penyelundup, penyuap, dll seperti yang di ungkap kan oleh sdr. Andi Sangka, yg memberi respond pada blog ini dan masih banyak org2 seperti sdr. Andi Sangka adalah termasuk orang2 yang berpikiran sangat simple,cupet dan dalam hidup mereka memang sdh terbiasa men-stereotype-kan orang lain tanpa menggunakan bukti ilmiah, alias alas mulut buka saja.

    Saya ingin mengajak pembaca memikir sejenak akan kejadian jembatan suramadu yg menghubungkan Sby-Madura. Sekrup2 yg di pakai banyak yg di curi, bahan bangunan untuk jembatan juga banyak yg di curi, siapa yang mencuri? apakah golongan Tionghoa yg mencuri? jelas bukan, biasanya kaum pribumi yang mencuri krn memang kebanyakan kaum pribumi local didaerah sekitar pembangunan itu terdiri dr perkampungan pribumi yg melarat.

    Setelah mencuri, bahan2 curian di jual demi sesuap nasi. Siapa pembelinya? mungkin pedagang Tionghoa, mungkin juga pedagang pribumi. Kalau pembelinya adalah pedagang golongan Tionghoa, maka saya bisa mengatakan bahwa kaum pribumi mencuri dan kaum Tionghoa menadah, keduanya sama2 bersalah dan melanggar hukum, tapi kenapa kaum tionghoa yg di salahkan?
    Bukannya seharusnya antara kaum pribumi dan golongan tionghoa penadah menjalin hubungan yang baik? saudara sehidup semati? mereka seharusnya bisa menjadi penunjang satu dan lainnya bukan?

    Dalam situasi seperti di indonesia, yang salah bukan kaum pribumi pencuri dan bukan kaum Tionghoa yg menadah tetapi yg salah besar adalah Para pejabat2 Indonesia!!!
    Kalau mereka tidak korusi besar2an, negara Indonesia akan menjadi makmur, kaya, penduduk mendapat pendidikan yg merata sehingga tak perlu lagi kaum pribumi harus mencuri seperti keadaan sekarang ini. Dgn dmk otomatis kalau tidak ada pencuri ya tidak ada penadah!

    Kalau ada yang menuduh kaum Tionghoa di Indonesia sebagai penyuap, penyelundup, tolong di pakai otaknya untuk memikir hal2 yg simple saja, coba tanya diri sendiri: Siapa sih yang mau mengeluarkan uang extra untuk menyuap para pejabat kalau mereka tidak memulai dhn mempersulit hampir semua proses legal yg seharusnya di patuhi? Bukannya lebih enak kalau uang suapan itu bisa di simpan saja di Bank dp harus di keluarkan utnuk menyuap?

    Ingin melamar surat ijin, pasport, surat apa saja selalu di persulit. Dari segi perdagangan “Time is Money”
    Kalau seharusnya surat ijin keluar dalam 1 minggu tetapi oleh oknum2 pemerintah indonesia prosesnya di ulur sampai sebulan, berapa kerugian yg di derita pedagang Tionghoa?

    Oknum2 pemerintah ini yang secara sengaja memaksa kaum Tionghoa supaya memberi “suap” jadi jangan seenaknya menanggap kaum Tionghoa sebagai penduduk yg merusak hukum.

    Seharusnya, demi memajukan negara Indonesia, pemerintah HARUS menyokong para pedagang bukannya mempersulit. Pajak yg di bayarkan ke pemerintah Indonesia oleh para pedagang dalam jumlah besar seharusnya di pakai untuk membangun negara bukan untuk mengirim anak2 para pejabat ke luar negeri, sekolah sambil berpesta pora…bukannya begitu?

  19. Sungguh amat kasihan, mereka yang tidak pernah mengerti dan mengetahui sejarah bangsa Indonesia. Susah memang karena banyak fakta sejarah yang disembunyikan oleh orang-orang tertentu yang punya wewenang tinggi di pemerintahan.

    Kebangkitan bangsa sebenarnya dimulai beberapa tahun sebelum lahirnya Boedi Oetomo. Organisasi moderen pertama yang bersifat kebangsaan justru didirikan oleh kaum Tionghoa, yang mendirikan Tiong Hoa Hwe Koan pada 17 Maret 1900. Mereka ini adalah sekelompok orang keturunan Tionghoa yang menyadari bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia dan bukan lagi bagian dari negeri Tiongkok. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan yang mengutamakan pendidikan kebangsaan.
    Kemudian inisiatif ini oleh keturunan Arab yang mendirikan Djamiat ul-Chair yang meniru model THHK. Baru kemudian priyayi jawa menyusul dan mendirikan Boedi Oetomo.

    Sumpah Pemuda tahun 1928 dibacakan di rumah Sie Kong Liang di Kramat Raya 106, Jakarta. Jangan lupa beberapa perintis kemerdekaan adalah keturunan Tionghoa, diantaranya Yap Tjwan Bing seperti ditulis dalam artikel.

    Sedikit kritik membangun bagi penulis artikel. Istilah yang tepat adalah Tionghoa, bukan China, bukan Cina. Cina itu adalah mereka yang lahir di dan atau warganegara RRC (orang Cina dalam bahasa Mandarin : Zhongguo ren). Sedang yang lahir di dan atau warganegara Indonesia adalah Tionghoa (dalam bahasa Mandarin : huaren).


Beri tanggapan

Your response:

Kategori